<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240</id><updated>2011-07-28T15:27:52.316-07:00</updated><title type='text'>ZUHUD</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-2929187025278475791</id><published>2010-04-22T17:15:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T17:18:46.129-07:00</updated><title type='text'>Taqwa</title><content type='html'>Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. (Q.s. Al Hujurat: 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Sa'id al Khudry, bahwa seseorang menghadap Nabi saw. dan berkata, "Wahai Rasulullah, nasihatilah saya!" Beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau harus mempunyai ketaqwaan kepada Allah, karena ketaqwaan adalah kumpulan seluruh kebaikan. Engkau harus melaksanakan jihad, karena jihad adalah kerahiban kaum Muslim. Dan engkau harus dzikir kepada Allah, karena dzikir adalah cahaya bagimu." (H.r. Ibnu Dharies, dari Abu Said).&lt;br /&gt;Anas r.a. meriwayatkan, seseorang bertanya kepada Rasulullah saw, "Siapakah keluarga Muhammad? "Beliau menjawab, "Setiap orang yang taqwa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa merupakan kumpulan seluruh kebaikan, dan hakikatnya adalah seseorang melindungi dirinya dari hukuman Tuhan dengan ketundukan kepada Nya. Asal usul taqwa adalah menjaga dari syirik, dosa dan kejahatan, dan hal hal yang meragukan (syubhat), serta kemudian meninggalkan hal-hal utama (yang menyenangkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syeikh Abu Ali ad Daqqaq r.a, masing masing bagian tersebut memiliki bab tersendiri. Dan dinyatakan di dalam tafsir mengenai firmanAllah swt, "Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar benar taqwa kepada Nya." (Q.s. Ali Imran: 102), ayat ini mempunyai makna bahwa Dia harus dipatuhi dan tidak ditentang, diingat dan tidak dilupakan, dan bahwa kita harus bersyukur kepada Nya dan tidak mengufuri Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahl bin Abdullah menegaskan, "Tiada penolong sejati selain Allah: tidak satu pun pembimbing yang sebenarnya selain Utusan Allah; tak satu pun perbekalan yang mencukupi selain taqwa, dan tidak satupun amal yang lenggeng keteguhannya selain bersabar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Kattany berkata, "Dunia dibagi secara adil sesuai dengan cobaan, dan akhirat dibagi secara adil sesuai dengan taqwa."&lt;br /&gt;Al Jurairy mengatakan, "Orangyang belum menjadikan taqwa dan muraqabah sebagai hakim, antara dirinya dan Tuhan tidak akan memperoleh mukasyafah dan musyahadah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nashr Abadzy menjelaskan, "Taqwa adalah bahwa hamba waspada terhadap segala sesuatu selain Allah swt. Barangsiapa menginginkan taqwa yang sempurna, hendaknya menghindari setiap dosa. Siapa pun yang teguh dalam taqwa akan merindukan perpisahan dengan dunia, karena Allah swt. berfirman, "Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Q.s. Al An'am: 32).&lt;br /&gt;Sebagian Sufi berkata, "Tuhan menjadikan berpaling dari dunia dengan mudah bagi orang yang benar benar bertaqwa." Abu Abdullah ar Rudzbary mengatakan, "Taqwa adalah menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menjadikan diri jauh dari Allah swt."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzun Nuun al Mishry mengatakan, "Orang yang bertaqwa kepada Allah adalah orang yang tidak menodai aspek lahiriah dirinya dengan sikap keras kepala, tidak pula aspek batiniahnya dengan alamat-alamat keruhanian. la berdiri di sisi Allah dalam keadaan selaras."&lt;br /&gt;Abul Hasan al Farisy berkata, "Taqwa mempunyai dimensi lahir dan batin. Dimensi lahir adalah pelaksanaan syariat, dan aspek batinnya adalah niat dan mujahadah."&lt;br /&gt;Dzun Nuun membacakan baris baris sajak berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kehidupan&lt;br /&gt;selain bersama mereka&lt;br /&gt;yanq hatinya mendambakan taqwa&lt;br /&gt;dan yarig istirah dalam dzikir&lt;br /&gt;Tentram dalam ruh keyakinan,&lt;br /&gt;Seperti anak menyusu di pangkuan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, "Taqwa seseorang ditandai oleh tiga sikap yang baik: Tawakkal terhadap apa yang belum dianugerahkan, berpuas diri dengan apa yang telah dianugerahkan, menghadapi milik yang hilang."&lt;br /&gt;Thalq bin Habib menjelaskan, "Taqwa adalah bertindak sesuai sesuai dengan cahaya Allah swt."&lt;br /&gt;Abu Hafs mengatakan, "taqwa adalah sikap seseorang membatasi dirinya terhadap hal-hal yang jelas diperbolehkan, hanya itu."&lt;br /&gt;Abu Husyan az Zanjany mengatakan, "Barangsiapa yang modal hartanya adalah taqwa, ia akan lelah menghitung labanya."&lt;br /&gt;Al Wasithy menegaskan, "Taqwa adalah sikap seseorang menjauhi ketaqwaannya; artinya, menghindari kesadaran akan taqwa. Contoh orang yang bertaqwa adalah Ibnu Sirin. Suatu saat Ibnu Sirin membeli empat puluh kaleng mentega. Ketika salah seorang pembantunya menyingkirkan seekor tikus dari salah satu gucinya, Ibnu Sirin bertanya kepadanya, 'Guci mana yang darinya tikus itu kamu singkirkan? Ia menjawab, 'Saya tidak tahu!' Selanjutnya Ibnu Sirin memutuskan mengosongkan semua guci dengan menuang seluruh mentega ke atas tanah. Contoh orang saleh adalah Abu Yazid al-Bisthamy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari ia membeli kunyit jingga di Hamadhan. la menjumpai hanya sedikit kunyit jingga, dan ketika kembali ke Bistham, ditemukannya dua ekor semut di kunyit tersebut. Maka, ia kembali ke Hamadhan dan melepaskan. kedua semut itu."&lt;br /&gt;Abu Hanifah tidak pernah mau berteduh di bawah kerindangan pohon milik orang yang berhutang kepadanya. Ia menjelaskan, "Sebuah hadis menyatakan:&lt;br /&gt;"Setiap hutang yang pengembaliannya disertai kelebihan adalah riba."&lt;br /&gt;(Riwayat al-Ajluni, namun as Suyuthy menganggap hadis ini dha'if).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Yazid sedang mencuci jubahnya di luar kota bersama seorang sahabat, ketika sahabatnya berkata, "Kita jemur jubah di dinding pagar kebun buah itu." Abu Yazid menjawab, "Jangan menancapkan paku di dinding orang!" Sahabatnya menyarankan, "Jemur saja di atas pohon. " Abu Yazid menjawab, "Aku khawatir ia akan menyebabkan cabang-cabangnya patah." la berkata, "Bentangkanlah ia di Atas rerumputan!" Abu Yazid menjawab, "Rerumputan itu makanan hewan ternak. Jangan kita menutupinya dengan jubah ini!" Selanjutnya, ia menghadapkan punggungnya ke arah matahari dan meletakkan jubah di atas punggungnya hingga satu sisi jubahnya mengering, lantas membalik sisi yang lain hingga mengering pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, pada suatu hari Abu Yazid memasuki masjid dan menancapkan tongkatnya ke tanah. Tongkat itu roboh dan menimpa tongkat seseorang yang berusia lanjut, yang juga menancapkannya di tanah, dan menyebabkan tongkat orang tua tersebut roboh. Orang tua itu membungkuk, lalu mengambil tongkatnya. Abu Yazid pergi ke rumah orang tua tersebut dan meminta maaf kepadanya, dengan mengatakan, "Anda tentu merasa terganggu disebabkan oleh kelalaian saya, ketika Anda terpaksa membungkuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utbah al Ghulam tampak bercucuran keringat di musim dingin. Ketika orang orang di sekitarnya menanyakan hal itu kepadanya, ia memberikan penjelasan, "Ini adalah tempat di mana aku telah bermaksiat kepada Allah swt." Ketika diminta memberikan penjelasan lebih jauh, ia mengatakan, "Aku mengambil sebongkah lempung dari dinding ini, supaya tamuku dapat membersihkan tangan dengannya, tetapi aku tidak meminta izin terlebih dulu kepada pemilik dinding ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim bin Adham berkata, "Pada suatu malam aku mengisi waktu di bawah kubah Masjid Kubah Batu Karang di Baitul Maqdis. Di tengah malam sepi turun dua malaikat. Malaikat pertama bertanya kepada sahabatnya, 'Siapakah orang yang berdiam di sini?' Sahabatnya menjawab, 'Ibrahim bin Adham.' Malaikat pertama itu berkata, 'Inilah orang yang derajatnya telah diturunkan Allah swt. satu tingkat.' Maka, malaikat kedua bertanya, 'Mengapa?' Ia menjawab, 'Karena ketika ia membeli sedikit kurma di Bashrah, sebutir kurma bercampur menjadi satu dengan kurma yang dibelinya, ia tidak mengembalikan kepada pemiliknya'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ibrahim melaporkan, "Aku berangkat ke Bashrah, membeli kurma dari orang tersebut, dan menjatuhkan sebutir kurma ke dalam kurma-kurma miliknya. Aku kembali ke Yerusalem dan mengisi malam hariku di Masjid Kubah Batu Karang. Ketika sebagian malam berlalu, aku melihat dua malaikat turun dari langit, dan malaikat yang satu bertanya kepada sahabatnya, 'Siapakah orang. yang berdiam di sini?' Sahabatnya menjawab, 'Ibrahim bin Adham.' Malaikat yang bertanya itu berkata lagi, 'Ini adalah orang yang telah dikembalikan, dan dinaikkan derajatnya oleh Allah swt.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa taqwa mempunyai bermacam macam aspek; bagi kaum awam taqwa adalah menghindari syirik, bagi kaum terpilih (khawash) adalah menghindari dosa dosa, bagi para auliya' adalah menghindari ketergantungan pada amal, dan bagi para Nabi menghindari menisbatkan amal kepada selain Allah swt. Sebab taqwa mereka datang dari-Nya dan kembali kepada Nya. Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib r.a. berkata, "Kaum termulia di dunia adalah kaum dermawan, dan yang paling mulia di akhirat adalah kaum yang taqwa."&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Umamah, bahwa Nabi saw. menegaskan:&lt;br /&gt;"Apabila seseorang menatap kecantikan seorang wanita dan kemudian menundukkan matanya setelah tatapan pertama, maka Allah menjadikan tindakannya itu suatu ibadat yang rasa manisnya dirasakan oleh hati orang yang melakukannya."””””””””” (H.r. Ahmad dalam Musnad nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Junayd sedang duduk duduk bersama Ruwaym, Al Jurairy dan Ibnu Atha'. Al Junayd berkata, "Seseorang tidak akan selamat kecuali bila berlindung secara ikhlas kepada Allah." Allah swt. berfirman, "Dan terhadap tiga orang yang tidak ikut serta (berjihad), hingga ketika bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (Q.s. At Taubah: 118).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;"Dan Allah menyelamatkan orang orang yang bertaqwa karena kemenangan mereka-mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita." (Q.s. Az Zumar: 61).&lt;br /&gt;Al Jurairy berkata, "Seseorang akan selamat hanya dengan tekun beribadat. Allah swt. berfirman, "... (yaitu) orang orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian." (Q.s. Ar Ra'ad: 20).&lt;br /&gt;Ibnu Atha' menegaskan, "Seseorang tidak akan selamat kecuali dengan sikap malunya di hadapan Allah swt." Allah swt. berfirman, "Tidakkah ia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?" (Q.s. Al 'Alaq: 14).&lt;br /&gt;"Bahwasanya orang orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka." (Q.s. Al Anbiya': 101).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, seseorang tidak akan selamat kecuali dengan pilihan yang telah ditetapkan atas dirinya. Allah swt. berfirman, "Dan Kami telah memilih meraka (untuk menjadi Nabi nabi dan Rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka kejalan yang lurus." (Q.s. AI Am'am: 87)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-2929187025278475791?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/2929187025278475791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/taqwa_3176.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/2929187025278475791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/2929187025278475791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/taqwa_3176.html' title='Taqwa'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-4264294278396186575</id><published>2010-04-21T11:07:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T16:57:13.716-07:00</updated><title type='text'>Zuhud</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Nabi saw.  bersabda: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;&lt;i&gt;"Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang telah dianugerahi  zuhud berkenaan dengan &lt;span5306829&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5306829S0"&gt;dunia&lt;/a&gt;&lt;/span5306829&gt; dan ucapan, maka dekatilah ia,  karena ia dibimbing oleh hikmah." (H.r. &lt;span5306829&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5306829S5"&gt;Abu&lt;/a&gt;&lt;/span5306829&gt;  Khallad dan di-takhrij oleh Abu Nu'aim dan Baihaqi).&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, “Pada umumnya banyak orang  berbeda pendapat berkenaan dengan zuhud. Sementara orang ada yang  mengatakan, 'Zuhud bersangkutan dengan perkara yang haram saja, sebab  perkara yang &lt;span5306829&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5306829S2"&gt;halal&lt;/a&gt;&lt;/span5306829&gt;  diterima Allah swt. Apabila Allah swt. memberikan berkat kepada hamba  Nya berupa harta yang halal dan hamba itu bersyukur kepada Nya atas  berkat itu, maka ia meninggalkan menurut upayanya, tanpa harus  mengajukan hak izin untuk mengekangnya.’ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Sebagian yang lain mengatakan, 'Zuhud terhadap perkara yang haram  adalah suatu kewajiban, sementara zuhud terhadap perkara yang halal  adalah suatu keutamaan. Apabila hamba Yang berzuhud miskin, tetapi sabar  terhadap keadaannya, bersyukur serta merasa puas atas segala sesuatu  yang telah dianugerahkan Allah swt. kepadanya, maka hal itu lebih baik  ketimbang berusaha menimbun kekayaan berlimpah di dunia'." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Allah swt. telah menghimbau ummat manusia untuk bersikap zuhud  berkenaan dengan perolehan kekayaan, melalui firmanNya: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;&lt;i&gt;"Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat  itu lebih baik untuk orang orang yang bertaqwa'." (Q.s. An Nisa': 77).&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Banyak ayat lainnya yang dapat dijumpai berkenaan dengan tidak  berharganya dunia dan seruan untuk bersikap zuhud terhadapnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Sebagian orang yang mengatakan, "Apabila seorang hamba membelanjakan  harta dalam ketaatan kepada Allah swt, bersabar, dan tidak mengajukan  keberatan terhadap larangan-larangan syariat untuk dilakukannya dalam  menghadapi kesulitan hidup, maka adalah lebih baik baginya bersikap  zuhud terhadap harta yang dihalalkan." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Sebagian yang lain berkomentar, "Seyogyanya bagi seorang hamba  memutuskan untuk tidak memilih meninggalkan yang halal dengan bebannya,  dan tidak pula berusaha memenuhi keperluan-keperluannya secara  berlebihan, karena menyadari atas rezeki yang diberikan oleh Allah swt.  Apabila Allah swt. menganugerahkan kepadanya harta yang halal, ia harus  bersyukur kepada Nya. Apabila Allah swt. menentukan dirinya berada pada  batas kecukupan hidup, maka hendaknya tidak memaksakan diri mencari  kemewahan, karena kesabaran merupakan sesuatu yang paling utama bagi  pemilik harta yang halal." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Sufyan ats-Tsaury berkata, "Zuhud terhadap dunia adalah membatasi  keinginan untuk memperoleh dunia, bukannya memakan makanan kasar atau  mengenakan jubah &lt;span5306829&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5306829S1"&gt;dari&lt;/a&gt;&lt;/span5306829&gt; kain kasar." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Sary as-Saqathy menegaskan, "Allah swt. menjauhkan dunia dari para  auliya' Nya, menjauhkannya dari makhluk makhluk Nya yang berhati suci,  dan menjauhkannya dari hati mereka yang dicintai Nya lantaran &lt;span5306829&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5306829S7"&gt;Dia&lt;/a&gt;&lt;/span5306829&gt; tidak  memperuntukkannya bagi mereka." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Zuhud disinggung secara tidak langsung di dalam firman Nya, "(Kami  jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka &lt;span5306829&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5306829S9"&gt;cita&lt;/a&gt;&lt;/span5306829&gt;  terhadap &lt;span5306829&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5306829S4"&gt;apa&lt;/a&gt;&lt;/span5306829&gt;  yang 1uput dari kamu, dan supaya kamu jangan terIalu gembira terhadap  apa yang diberikan Nya kepadamu." (Q.s. Al-Hadid: 23), sebab sang hamba  tidaklah gembira atas apa yang dimilikinya di dunia, dan tidak pula  bersedih atas apa yang tiada dimilikinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Abu Utsman berkata, "Zuhud adalah hendaknya Anda meninggalkan dunia  dan kemudian tidak peduli dengan mereka yang mengambilnya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, "Zuhud adalah hendaknya Anda  meninggalkan dunia sebagaimana adanya ia, bukan berkata, Aku akan  membangun pondok Sufi (ribath) atau mendirikan masjid." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Yahya &lt;span5306829&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5306829S3"&gt;bin&lt;/a&gt;&lt;/span5306829&gt;  Mu'adz mengatakan, "Zuhud menyebabkan kedermawanan berkenaan dengan hak  milik, dan cinta yang mengantarkan, pada semangat kedermawanan." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Ibnul jalla' berkomentar, "Zuhud adalah sikap Anda memandang dunia  ini hina di mata Anda, maka berpaling darinya akan menjadi mudah bagi  diri Anda." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Ibnu Khafif berkata, "Pertanda zuhud adalah adanya sikap tenang  ketika berpisah dari harta milik." Dikatakannya pula, "Zuhud adalah  ketidak-senangan jiwa pada dunia, dan melepaskan urusan hak milik itu." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;An-Nashr Abadzy berkata, "Orang zuhud selalu asing di dunia, dan  seorang ahli ma'rifat ('arif) adalah orang asing di akhirat." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Dikatakan, "Bagi orang yang benar benar bersikap zuhud, dunia akan  menyerahkan diri kepadanya dengan penuh kerendahan dan kehinaan." Oleh  sebab itu, dikatakan, "Apabila sebuah topi jatuh dari langit, ia akan  jatuh di atas kepala seseorang yang tidak menghendakinya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Al-Junayd mengajarkan, "Zuhud adalah kekosongan hati dari sesuatu  yang tangan tidak memilikinya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Ulama salaf berbeda pandangan soal zuhud. Sufyan ats-Tsaury, Ahmad  bin Hanbal, Isa bin Yunus dan lain-lainnya menegaskan, bahwa zuhud di  dunia berarti membatasi angan-angan dan keinginan. Ungkapan ini  sebagaimana mereka tegaskan, cenderung dipahami sebagai faktor-faktor  sebab zuhud, sekaligus sebagai faktor pembangkit zuhud dan makna  esensial yang mencakup disiplin zuhud itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Abdullah ibnul Mubarak berkomentar, "Zuhud adalah tawakkal kepada  Allah swt. dipadu dengan kecintaan kepada kefakiran." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Syaqiq al-Balkhy dan Yusuf bin Asbati juga mengatakan demikian.  Jadi, ini juga merupakan satu dari tanda tanda zuhud, lantaran si hamba  tidak mampu merelakan dunia kecuali dengan tawakal kepada Allah swt. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Abdul Wahid bin Zaid memberikan penjelasan, "Zuhud adalah menjauhkan  diri dari dinar dan dirham." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan, "Zuhud adalah menjauhkan diri  dari apa pun yang memalingkan Anda dari Allah swt. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Ketika al-Junayd bertanya tentang zuhud, Ruwaym menjawab, 'Zuhud  adalah meremehkan dunia dan menghapus bekas bekasnya dari hati." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;As-Sary berkata, "Kehidupan seorang zahid tidak akan baik apabila  dirinya terpalingkan dari kepedulian terhadap jiwanya, dan kehidupan  seorang 'arif tidak akan baik apabila terlalu mementingkan jiwanya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Al-Junayd berkata, "Zuhud adalah mengosongkan tangan dari harta dan  mengosongkan hati dari kelatahan." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Ditanya tentang zuhud, asy-Syibly menjawab, "Zuhud adalah hendaknya  Anda menjauhkan diri dari segala sesuatu selain Allah swt." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Yahya bin Mu'adz berkata, "Tidak akan sempurna zuhud seseorang,  kecuali memiliki tiga karakter ini: Berbuat tanpa disertai keterikatan,  berbicara tanpa disertai ambisi, dan kemuliaan tanpa adanya kekuasaan  atas orang lain." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Abu Hafs mengatakan, "Tidak ada zuhud kecuali dalam perkara yang  halal, dan di dunia ini tiada yang halal, karenanya tiada pula zuhud." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Abu Utsman berkata, "Allah swt. memberi seorang zahid sesuatu lebih  daripada sekadar yang diinginkannya, dan Dia memberikan sesuatu kepada  hamba yang dicintai Nya kurang dari yang ia inginkan. Dia memberi hamba  yang mustaqim sesuai yang diinginkannya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Yahya bin Mu'adz berkata, "Orang zuhud adalah yang mengusik hidung  Anda dengan bau cuka, tetapi kaum 'arif menyebarkan keharuman minyak  kasturi." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Hasan al-Bashry berkata, "Zuhud di dunia, hendaknya Anda membenci  muatan dan pendukungnya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Seseorang bertanya kepada Dzun Nuun al-Mishry, "Kapan saya dapat  menjauhkan diri dari dunia?" Dzun Nuun menjawab, "Ketika Anda menjauhkan  diri dari nafsu." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;&lt;span5306829&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5306829S6"&gt;Muhammad&lt;/a&gt;&lt;/span5306829&gt;  ibnul Fadhl mengatakan, "Sikap memprioritaskan orang lain bagi kaum  zuhud adalah pada waktu mereka berkecukupan, sedangkan kaum ksatria  adalah pada waktu sangat membutuhkan." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Allah swt. berfirman: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;&lt;i&gt;"Dan mereka mengutamakan (orang orang Muhajirin), atas diri  mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan." (Q.s. AI Hasyr: 9).&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Al-Kattany mengatakan, "Sesuatu yang tidak ditentang oleh orang  Kufah, tidak oleh orang Madinah, orang Irak, juga tidak oleh orang  Syria, adalah zuhud terhadap dunia, kedermawanan dan berdoa supaya ummat  manusia mendapatkan kebaikan." Artinya, tidak seorang pun yang  mengatakan bahwa hal hal ini tidak terpuji. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Seseorang bertanya kepada Yahya bin Mu'adz, "Bilakah saya akan  memasuki kedai tawakal, mengenakan jubah zuhud dan duduk dalam majelis  bersama kaum zuhud?" Yahya menjawab, "Ketika Anda tiba pada suatu  keadaan dalam olah ruhani (riyadhah) dalam diri Anda secara rahasia,  sehingga sampai pada batas ketika Allah memutuskan rezeki kepada Anda  selama tiga hari tidak merasakan lemah. Tetapi, apabila tujuan ini tidak  tercapai, maka duduk di atas karpet kaum zuhud hanyalah kebodohan, dan  saya tidak dapat menjamin bahwa diri Anda tidak akan terhinakan di  tengah tengah mereka." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Bisyr al-Hafi menegaskan, "Zuhud adalah seorang raja yang tidak  menempati suatu tempat selain hati yang kosong." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Muhammad ibnul Asy'ats al-Bikandy berkata, "Barangsiapa berbicara  tentang zuhud dan menyeru manusia kepada zuhud disamping juga  menginginkan sesuatu yang mereka miliki, maka Allah swt. akan melepaskan  kecintaan pada akhirat dari hatinya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Dikatakan, "Manakala seorang hamba menjauhkan diri dari dunia, maka  Allah swt. mempercayakan dirinya kepada malaikat yang menanamkan  kebijaksanaan didalam hatinya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Seorang Sufi ditanya, "Mengapa Anda menolak dunia?" la menjawab,  "Karena ia telah menolakku." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Ahmad bin Hanbal memberikan penjelasan, "&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tiga macam zuhud: Bersumpah menjauhi  perkara yang haram adalah zuhud kaum awam, bersumpah menjauhi sikap  berlebih lebihan dalam perkara yang halal adalah zuhud kaum terpilih  (khawash), dan bersumpah menjauhi apa pun yang, memalingkan sang hamba  dari Allah swt. adalah zuhud kaum'arifin." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, "Salah seorang Sufi ditanya,  'Mengapa Anda menolak dunia?' Dijawab sang Sufi, 'Karena aku menarik  diri dari kemewahan dan menolak menginginkannya barang sedikit pun'." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Yahya bin Mu'adz berkata, "Dunia ini bagaikan pengantin wanita.  Orang yang mencarinya akan membelai rambutnya penuh kelembutan. Sedang  bagi si zahid, di dalamnya akan tampak kusam, mengacak acak rambutnya,  dan membakar gaunnya. Kaum 'arlfin, senantiasa sibuk dengan Allah swt,  tidak sedikit pun menoleh pada dunia." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;As-Sary berkata, 'Aku melaksanakan seluruh aturan zuhud dan  dianugerahi segala sesuatu yang kuminta dalam doa, kecuali zuhud  terhadap masyarakat. Aku belum mencapai ini, dan aku pun belum sanggup  menanggungnya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Dikatakan, "Kaum zuhud telah mengucilkan diri dan berkumpul hanya  dengan sesama mereka saja, sebab mereka menjauhi nikmat nikmat  sementara, demi nikmat nikmat yang abadi." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;An-Nashr Abadzy berkomentar, "Zuhud adalah memelihara darah kaum  Zahidin dan menumpahkan darah kaum Arifin." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Hatim al-Asham mengatakan, "Kaum zuhud menghabiskan isi dompetnya  sebelum dirinya, dan orang yang berperilaku zuhud menghabiskan dirinya  sebelum dompetnya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;AI-Fudhail bin 'Iyad berkata, 'Allah swt. menempatkan seluruh  kejahatan dalam satu rumah dan menjadikan kecintaan kepada dunia sebagai  kuncinya. Dia menempatkan seluruh kebaikan di rumah yang lain dan dan  menjadikan zuhud sebagai kuncinya."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-4264294278396186575?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/4264294278396186575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/zuhud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/4264294278396186575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/4264294278396186575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/zuhud.html' title='Zuhud'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-1597433337506543037</id><published>2010-04-21T11:02:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T16:53:46.826-07:00</updated><title type='text'>Wara’</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;Dinwayatkan oleh &lt;span227064&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y227064S2"&gt;Abu&lt;/a&gt;&lt;/span227064&gt; Dzar al  Ghiffary, bahwa Rasulullah saw. bersabda:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebagian &lt;span227064&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y227064S0"&gt;dari&lt;/a&gt;&lt;/span227064&gt;  kebaikan tindakan keislaman seseorang adalah bahwa ia menjauhi segala  sesuatu yang tidak berarti.” (H.r. Malik &lt;span227064&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y227064S1"&gt;bin&lt;/a&gt;&lt;/span227064&gt; Anas,  Tirmidzi dan Ibnu Majah).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, “Wara' adalah meninggalkan &lt;span227064&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y227064S7"&gt;apa&lt;/a&gt;&lt;/span227064&gt; pun  yang syubhat." Demikian pula, Ibrahim bin Adham memberikan penjelasan,  “Wara' adalah meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, segala sesuatu  yang tidak berarti, dan apapun yang berlebihan."&lt;br /&gt;Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. berkata, "&lt;span227064&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y227064S5"&gt;Kami&lt;/a&gt;&lt;/span227064&gt; dahulu&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;tujuh puluh perkara yang termasuk ke dalam hal-hal  yang dihalalkan, karena khawatir terjerumus ke dalam satu hal yang  haram."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi saw. bersabda:&lt;br /&gt;"Bersikaplah wara', dan kamu akan menjadi orang yang paling taat  beribadat di antara ummat manusia." (H.r. Ibnu Majah, Thabrani dan  Baihaqi).&lt;br /&gt;As-Sary berkata, "Terdapat empat orang yang wara' di zaman mereka:  Hudzaifah al-Murta'isy, Yusuf bin Asbat, Ibrahim bin Adham dan Sulaiman  al-Khawwas. Mereka bersikap wara', dan apabila usaha untuk mendapatkan  sesuatu yang &lt;span227064&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y227064S6"&gt;halal&lt;/a&gt;&lt;/span227064&gt;  begitu sulit bagi mereka, mereka mencarinya seminimal mungkin."&lt;br /&gt;Asy-Syibly berkomentar, "Wara' adalah sikap menjauhi segala sesuatu  selain Allah swt."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ishaq bin Khalaf mengatakan, "Wara' dalam bicara lebih sulit  ketimbang menjauhi emas dan perak, dan zuhud dari kekuasaan lebih sulit  ketimbang menyerahkan emas dan perak, karena Anda siap mengorbankan emas  dan perak demi kekuasaan."&lt;br /&gt;Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan, "Wara' adalah titik tolak zuhud,  sebagaimana sikap puas terhadap apa yang &lt;span227064&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y227064S9"&gt;ada&lt;/a&gt;&lt;/span227064&gt; adalah  bagian utama dari ridha. "&lt;br /&gt;Abu Utsman mengatakan, "Pahala bagi wara' adalah kemudahan  penghitungan amal di akhirat." Yahya bin Mu'adz berkata, "Wara' adalah  berpangku pada batas ilmu tanpa menakwilkannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, "Sekeping &lt;span227064&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y227064S4"&gt;uang&lt;/a&gt;&lt;/span227064&gt; logam kecil milik Abdullah bin  Marwan jatuh ke dalam sebuah sumur yang berisi kotoran, lalu ia meminta  bantuan seseorang untuk mengambilnya dengan membayarnya tigabelas dinar.  Ketika seseorang bertanya kepadanya, ia memberikan penjelasan, 'Nama  Allah swt. tertera pada uang itu'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya bin Mu'adz menegaskan, "&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;  dua jenis wara': Wara' dalam pengertian dzahir, yaitu sikap yang  mengisyaratkan bahwa tidak ada satu tindakan pun selain karena Allah  swt, dan wara' dalam pengertian batin, yaitu sikap yang mengisyaratkan  bahwa tidak ada sesuatu pun yang memasuki hati Anda kecuali Allah swt."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga berkata, "Orang yang tidak memeriksa dan memahami seluk  beluk wara' tidak akan mendapatkan anugerah."&lt;br /&gt;Dikatakan, "Orang yang pandangannya atas agama jeli, akan memperoleh  peringkat yang tinggi di Hari Kebangkitan."&lt;br /&gt;Yunus bin Ubaid mengatakan, "Wara' berarti keluar dari segala  syubhat, dan merefleksikan diri dalam setiap pandangan."&lt;br /&gt;Sufyan ats-Tsaury berkomentar, "Aku belum pernah melihat sesuatu  yang &lt;span227064&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y227064S3"&gt;mudah&lt;/a&gt;&lt;/span227064&gt;  selain wara'. Apa pun yang diinginkan oleh hawa nafsu Anda,  tinggalkanlah!."&lt;br /&gt;Ma'ruf al-Karkhy mengajarkan, "Jagalah lidah Anda dari pujian,  sebagaimana Anda menjaganya dari cacian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisyr ibnul Harits berkata, "Hal-hal paling sulit untuk dilaksanakan  ada tiga: Dermawan di masa masa sulit, wara' adalah khalwat, dan  menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang Anda takuti dan Anda  jadikan harapan."&lt;br /&gt;Saudara wanita Bisyr al-Hafi mengunjuingi Ahmad bin Hanbal dan  memberitahukan kepadanya, "Kami sedang memintal di atas atap rumah,  ketika obor kaum Dzahiriyah berlalu dan cahayanya menyinari kami. Apakah  diperbolehkan bagi kami memintal di dekat cahaya mereka?" Ahmad  bertanya, "Siapakah Anda, (semoga Allah menjaga kesehatanAnda)?" Ia  menjawab, "Saya adalah saudara wanita Bisyr al Hafi." Ahmad menangis,  lalu berkata, Wara' yang jujur muncul dari keluarga Anda. Jangan  memintal di dekat cahaya itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali al-'Atthar berkata, "Suatu ketika aku sedang berjalan melewati  Bashrah melintasi sebuah jalan, dan aku melihat beberapa orang syeikh  sedang duduk, sementara beberapa pemuda bermain di dekatnya. Oleh karena  itu, aku bertanya kepada mereka, 'Apakah Anda sekalian tidak malu  bermain di depan Syeikh syeikh ini?' Salah seorang pemuda tersebut  menjawab, 'Wara' para syeikh ini demikian kecil hingga kami memandang  kecil mereka'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, bahwa Malik bin Dinar tinggal di Bashrah selama empat  puluh tahun, ia tidak pernah memakan kurma kering maupun yang masih  segar dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;  tersebut. Sampai saat musim berlalu, ia berkata, "Wahai penduduk  Bashrah, inilah perutku, tidak kurang juga tidak pernah bertambah!"&lt;br /&gt;Seseorang bertanya kepada Ibrahim bin Adham, "Mengapa Anda tidak  minum Zamzam?" Ia menjawab, "Apabila aku mempunyai timba, aku akan  meminumnya." Apabila al-Harits al-Muhasiby mengambil makanan yang  syubhat, maka urat di ujung jarinya berdenyut, dan ia menganggap bahwa  makanan tersebut syubhat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Bisyr al-Hafi diundang ke jamuan makan, dan dihidangkan  makanan di depannya. Ia hendak menyantap makanan itu, tetapi tangannya  tidak dapat digerakkan. Ia berusaha menggeraknya hingga tiga kali.  Seseorang yang akrab dengan situasi ini mengatakan, "Tangannya tidak  pernah mengambil makanan yang syubhat. Percuma saja tuan mengundang  syeikh ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sahl bin Abdullah ditanya tentang halal yang murni, ia  menjawab, "Yaitu yang di dalamnya tidak pernah dicampuri maksiat kepada  Allah swt. Dan halal yang murni adalah yang Allah tidak dilupakan di  dalamnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan al-Bashry memasuki Mekkah, la melihat salah seorang keturunan  Ali bin Abu Thalib r.a. bersandar ke Ka'bah dan berceramah di hadapan  sekumpulan orang. Hasan bergegas menghampirinya, lalu bertanya,  "Siapakah yang menguasai agama-agama?" Ia menjawab, "Orang wara'." Hasan  bertanya lagi, "Apakah yang merusak agama." Ia menjawab, "Keserakahan."  Maka Hasan mengaguminya, seraya berkata, "Bobot sebutir wara' yang  cacat adalah lebih baik ketimbang bobot seribu hari berpuasa dan  shalat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah mengatakan, "Sahabat sahabat dalam majelis Allah swt.  di akhirat adalah orang orang yang wara' dan zuhud."&lt;br /&gt;Sahl bin Abdullah berkata, "Apabila wara' tidak menyertai seseorang,  la tidak akan pernah merasa kenyang, sekalipun diwajibkan baginya makan  kepala gajah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit minyak kasturi yang berasal dari rampasan perang dibawa ke  hadapan Umar bin Abdul Aziz. Katanya, "Manfaat satu satunya adalah aroma  keharumannya, dan aku tidak ingin hanya diriku sendiri yang mencium  aromanya, sementara seluruh kaum Muslim tidak berbagi membauinya."&lt;br /&gt;Ketika ditanya tentang wara', Abu Utsman al-Hiry berkata, "Abu  Shalih Hamdun al-Qashshar berada bersama salah seorang sahabatnya yang  sedang menjelang maut. Orang tersebut meninggal, dan Abu Shalih  memadamkan lampu. Seseorang bertanya kepadanya tentang hal ini, lalu ia  mengatakan, "Sampai sekarang minyak yang di dalam lampu ini menjadi  milik para ahli warisnya. Carilah minyak yang bukan miliknya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamisan berkata, 'Aku meratapi dosaku selama empat puluh tahun.  Salah seorang saudara mengunjungiku, dan kubelikan sepotong ikan rebus  untuknya. Ketika ia selesai memakannya, aku mengambil sebongkah lempung  dinding milik tetanggaku, sampai ia dapat membersihkan tangannya, dan  aku belum meminta halalnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang sedang menulis suatu catatan saat ia tinggal di sebuah  rumah sewa dan ingin mengeringkan tulisannya dengan debu yang dapat  diperoleh dari dinding rumah tersebut. Ia teringat bahwa rumah yang  ditempatinya adalah rumah sewa, akan tetapi ia berpendapat bahwa hal itu  tidaklah penting. Karenanya, ia pun mengeringkan tulisan tersebut  dengan debu. Kemudian ia mendengar sebuah suara mengatakan, "Orang  meremehkan debu akan melihat betapa lama perhitungan amalnya kelak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad bin Hanbal (semoga Allah melimpahkan kasih-sayang kepadanya)  menggadaikan sebuah ember kepada seorang penjual bahan makanan di  Mekkah. Ketika ingin menebusnya, penjual bahan makanan tersebut  mengeluarkan dua ember, sembari mengatakan, "Ambillah, yang mana ember  milik Anda?" Ahmad menjawab, "Saya ragu. Oleh karena itu, simpan saja,  baik kedua ember maupun uang itu untuk Anda!" Penjual bahan makanan  tersebut memberitahu, "Inilah ember Anda. Saya hanya ingin menguji  Anda." Ahmad menyahut, "Saya tidak akan mengambilnya," lalu pergi,  dengan meninggalkan ember kepunyaannya kepada si penjual bahan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyab Ibnul Mubarak membiarkan kudanya yang mahal berkeliaran  dengan bebas ketika ia sedang melakukan shalat dzuhur. Kuda tersebut  merumput di ladang milik kepala desa. Akhirnya, Ibnul Mubarak  meninggalkan kuda tersebut dengan tidak mengendarainya. Dikatakan bahwa  Ibnul Mubarak suatu ketika pergi pulang dari Marw ke &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Syria&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;,  gara-gara telah meminjam sebuah pena dan lupa mengembalikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nakha'y menyewa seekor kuda. Ketika cambuknya terlepas dari  tangan dan jatuh, ia pun turun, seraya mengikat kudanya, dan berjalan  untuk memungut cambuk itu. Seseorang berkomentar, "Akan lebih mudah  seandainya Anda mengendalikan kuda Anda menuju tempat di mana cambuk itu  jatuh dan kemudian mengambilnya." An-Nakha'y menyahut, "Aku menyewa  kuda itu untuk pergi ke arah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;,  bukan ke sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr ad-Daqqaq berkata, "Aku berkelana di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;padang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; belantara bani Israil selama  limabelas hari, dan ketika tiba di sebuah jalan, seorang prajurit  menemuiku dan memberi seteguk air minum. Air itu menumbuhkan penderitaan  dalam hatiku, dan aku menderita selama tigapuluh tahun."&lt;br /&gt;Rabi'ah al-Adawiyah menjahit bajunya yang sobek di dekat lampu  sultan, tiba tiba ia tersentak dan kemudian sadar. Maka, Rabi'ah pun  menyobek pakaiannya, dan menemukan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan ats Tsaury suatu ketika bermimpi mempunyai sepasang sayap  yang dapat digunakan untuk terbang di surga. Kemudian ia ditanya,  "Dengan apa hingga Anda dianugerahi ini?" Dijawabnya, "Wara'. "&lt;br /&gt;Ketika Hissan bin &lt;span227064&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y227064S8"&gt;Abi&lt;/a&gt;&lt;/span227064&gt; Sinan menghampiri murid murid  al-Hasan, ia bertanya, "Hal apakah yang paling sulit bagi Anda?" Mereka  menjawab, "Wara'." Ia berkata, "Tidak ada sesuatu yang paling mudah  bagiku selain ini (wara')." Mereka bertanya, "Mengapa demikian?" Hissan  bin Abi Sinan menanggapi, "Aku belum pernah minum air dari mata air  milik Anda semua selama empatpuluh tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hissan bin Abi Sinan tidak tidur terlentang atau makan makanan  berlemak atau minum air dingin selama enampuluh tahun. Seseorang  bermimpi bertemu dengan Hissan bin Abi Sinan, lalu bertanya kepadanya  tentang apa yang telah Allah lakukan atas dirinya. Dijelaskan oleh  Hissan bin Abi Sinan, "Baik, kecuali bahwa pintu surga tertutup bagiku,  karena jarum yang pernah kupinjam belum kukembalikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Wahid bin Zaid mempunyai seorang pembantu rumah tangga yang  bekerja kepadanya selama bertahun tahun dan beribadat secara khusyu'  selama empatpuluh tahun. Sebelumnya ia adalah seorang penimbang gandum.  Dan ketika ia meninggal, seseorang bermimpi bertemu dengannya. Ditanya  tentang apa yang telah Allah lakukan atas dirinya? Dijawabnya, "Baik,  kecuali bahwa aku dihalang, memasuki pintu. surga, disebabkan oleh debu  pada timbangan gandum yang dengannya aku menimbang empatpuluh porsi  gandum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Isa putra Maryam as. melewati sebuah makam, seseorang  berteriak dari dalam kuburnya. Allah swt. menghidupkannya kembali, dan  Isa bertanya kepadanya, "Siapakah Anda?" Ia menjawab, "Aku adalah  seorang kuli, dan pada suatu hari, saat aku mengantarkan kayu bakar  untuk seseorang, aku mematahkan sepotong kayu kecil. Sejak aku  meninggal, aku dianggap bertanggungjawab atas hal itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sa'id al-Kharraz berbicara tentang wara', ketika Abbas bin  al-Muhtadi berlalu di hadapannya. Ia bertanya, "Wahai Abu Sa'id, apakah  Anda tidak mempunyai rasa malu? Anda duduk di bawah atap Abu ad-Dawaniq,  minum dari penampungan air Zubaydah, berniaga dengan riba, tetapi  berbicara tentang wara&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-1597433337506543037?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/1597433337506543037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/wara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/1597433337506543037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/1597433337506543037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/wara.html' title='Wara’'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-7359043215971502971</id><published>2010-04-21T10:54:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T16:48:06.736-07:00</updated><title type='text'>Sedih</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;Syeikh  Abul Qasim al-Qusyairy&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;Allah  swt. berfirman:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan mereka akan mengatakan (ketika berada di surga), 'Segala  puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan &lt;span1768793&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1768793S7"&gt;dari&lt;/a&gt;&lt;/span1768793&gt;  kita'." (Q.s. Fathir: 34).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan darl &lt;span1768793&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1768793S9"&gt;Abu&lt;/a&gt;&lt;/span1768793&gt; Sa'id al Khudry bahwa Rasulullah  saw. bersabda:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidak sesuatu pun keburukan menimpa seorang hamba yang beriman,  apakah itu penderitaan, penyakit, kesedihan, atau rasa sakit yang  merisaukannya, kecuali Allah swt. akan mengampuni dosa-dosanya." (H.r.  Ahmad, Bukhari Muslim).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S888jkMbzJI/AAAAAAAAAHI/XxVid82UDhg/s1600/sedih.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 169px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S888jkMbzJI/AAAAAAAAAHI/XxVid82UDhg/s200/sedih.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462651454732618898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;Sedih (huzn) adalah keadaan yang menyelamatkan hati tersesat lembah  kealpaan. Dan kesedihan adalah salah satu sifat &lt;span1768793&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1768793S2"&gt;para&lt;/a&gt;&lt;/span1768793&gt; ahli  penempuh jalan ruhani (suluk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abu &lt;span1768793&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1768793S1"&gt;Ali&lt;/a&gt;&lt;/span1768793&gt;  ad Daqqaq r.a. berkata, "Orang yang dipenuhi kesedihan mampu menempuh  jalan Allah dalam waktu satu bulan, sepanjang jarak yang tidak bisa  ditempuh dalam waktu satu tahun oleh orang yang tidak memiliki  kesedihan."&lt;br /&gt;Dalam hadis dikatakan, "Sesungguhnya Allah mencintai setiap hati  yang sedih."&lt;br /&gt;Dalarn Kitab Taurat disebutkan, "Jika Allah mencintai seorang hamba,  maka Dia akan menempatkan suatu penyedih dalam hatinya, dan jika Dia  membenci seorang hamba, maka ditempatkan Nya sebuah seruling dalam  hatinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa Rasulullah saw. selalu berada dalam keadaan sedih  dan merenung sepanjang masa.&lt;br /&gt;Bisyr &lt;span1768793&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1768793S0"&gt;bin&lt;/a&gt;&lt;/span1768793&gt;  Harits mengatakan, "Sedih adalah raja, Manakala dalam sebuah tempat,  tidak akan sudi menerima orang lain tinggal bersamanya. "&lt;br /&gt;Dikatakan, "Jika tidak ada kesedihan dalam hati, maka ia akan  menjadi rusak, sebagaimana sebuah rumah akan menjadi roboh manakala  tidak ada orang yang tinggal di dalamnya."&lt;br /&gt;Abu Sa'id al Qurasyi berkomentar, "Air mata kesedihan membuat orang  buta, tetapi air mata kerinduan meredupkan pandangan, namun tidak  membutakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. berfirman, “Dan kedua matanya menjadi putih karena  kesedihan dan ia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap  anak-anaknya)”. (Q.s Yusuf:84).&lt;br /&gt;Ibnu Khafif menjelaskan, "Sedih adalah mencegah diri dari bangkit  mencari kesenangan."&lt;br /&gt;Rabi'ah al Adawiyah mendengar seorang laki-Iaki meratap, "Aduhai,  kesedihan!" Rabi'ah menyela, "Katakanlah, kesedihan kita!” Jika engkau  benar benar bersedih, niscaya engkau tidak akan bisa bernafas."&lt;br /&gt;Sufyan bin 'Uyainah mengatakan, "Apabila ada seorang tertimpa  kesedihan dan menangis di kalangan suatu kaum, maka Allah swt. akan  mengasihani mereka semua karena air matanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dawud ath-Tha'y ketika tertimpa kesedihan, dan di malam hari ia akan  berdoa, "Ilahi, kerinduanku terhadap Mu membuat diriku gelisah dan  menghalangi antaraku dengan tidurku." Dan Allah pun menjawab, "Bagaimana  mungkin bagi seorang yang penderitaannya diperbarui setiap saat, akan  mencari penghiburan dari kesedihan?"&lt;br /&gt;Dikatakan, "Sedih menahan orang dari makan, sedangkan takut,  menahannya dari dosa."&lt;br /&gt;Salah seorang Sufi ditanya, "Dengan apa kesedihan manusia dinilai?"  Ia Menjawab, "Dengan banyaknya ratapan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As Sary as-Saqathy berkata, "Aku ingin sendainya kesedihan seluruh  manusia di Muka bumi ini ditimpakan kepadaku." Banyak orang telah  berbicara tentang kesedihan, dan mereka semua mengatakan bahwa hanya  kesedihan yang diilhami oleh kepedulian akhiratlah yang patut dipuji,&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;sedang kesedihan karena &lt;span1768793&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1768793S8"&gt;dunia&lt;/a&gt;&lt;/span1768793&gt; ini  patut dicela. Tetapi Abu Utsman al-Hiry menjelaskan, "Kesedihan dalam  semua seginya adalah suatu keutamaan dan peningkatan bagi seorang  beriman, selama kesedihan itu bukan karena dosa. Sekalipun kesedihan itu  tidak menghasilkan satu derajat khusus, ia akan membawakan  pengampunan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang syeikh tertentu, apabila murid-muridnya akan pergi melakukan  perjalanan, ia akan berpesan, "Jika engkau melihat seorang yang sedang  bersedih, sampaikanlah salamku kepadanya!".&lt;br /&gt;Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, "Salah seorang Sufi bertanya  kepada matahari selagi terbenam, Apakah hari ini engkau telah menyinari  seorang yang tertimpa kesedihan'?"&lt;br /&gt;Orang tidak pernah melihat Hasan al-Bashry tanpa mengira bahwa ia  baru saja mengalami bencana.&lt;br /&gt;Ketika Fudhail bin 'Iyadh meninggal dunia, Waki' mengatakan, "Hari  ini kesedihan telah lenyap dari muka bumi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dari kaum Muslimin generasi salaf berkata, "Sebagian  besar dari apa yang ditemukan oleh seorang beriman dalam catatan amal  perbuatan baiknya adalah penderitaan dan kesedihan."&lt;br /&gt;Fudhail bin 'Iyadh berkomentar, "Kaum salaf mengatakan, 'Setiap  sesuatu ada zakatnya, dan zakat hati adalah kesedihan yang panjang'."&lt;br /&gt;Ketika Abu Utsman al-Hiry ditanya tentang kesedihan, ia menjawab,  "Orang yang sedih adalah yang tidak punya waktu untuk menyibukkan diri  dengan pertanyaan tentang kesedihan. Maka berjuanglah untuk mencari  kesedihan, lalu bertanyalah."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-7359043215971502971?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/7359043215971502971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/sedih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/7359043215971502971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/7359043215971502971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/sedih.html' title='Sedih'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S888jkMbzJI/AAAAAAAAAHI/XxVid82UDhg/s72-c/sedih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-4450788628713909880</id><published>2010-04-21T10:41:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T16:51:34.575-07:00</updated><title type='text'>Diam</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;Syeikh  Abul Qasim Al-Qusyairy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh &lt;span1166367&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1166367S3"&gt;Abu&lt;/a&gt;&lt;/span1166367&gt; Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw.  bersabda:&lt;br /&gt;"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak  mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari  Akhir, hendaklah menghormati tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada  Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (H.r Bukhari  Musliln dan Abu Dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span1166367&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1166367S1"&gt;Dari&lt;/a&gt;&lt;/span1166367&gt;  Abu Umamah, bahwasanya 'Uqbah &lt;span1166367&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1166367S8"&gt;bin&lt;/a&gt;&lt;/span1166367&gt; Amir  bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?"&lt;br /&gt;Beliau menjawab, "Jagalah lidahmu, berpuaslah dengan rumahmu, dan  menangislah untuk dosa dosamu. " (H.r. Tirmidzi).&lt;br /&gt;Syeikh ad-Daqqaq berkata, "Diam mencerminkan rasa aman dan merupakan  aturan yang mesti dilaksanakan; penyesalan akan mengikutinya apabila  orang terpaksa mencegahnya. Seharusnya dalam diam, mempertimbangkan di  dalamnya hukum syara', perintah-perintah dan larangan larangan harus  dipatuhi di dalam sikap diam. Diam pada waktu yang tepat adalah termasuk  sifat &lt;span1166367&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1166367S6"&gt;para&lt;/a&gt;&lt;/span1166367&gt;  tokoh. Begitupun bicara pada tempatnya merupakan karakter yang mulia."&lt;br /&gt;Selanjutnya Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, "Barangsiapa  menahan diri untuk mengucapkan kebenaran adalah setan yang bisu."&lt;br /&gt;Diam adalah salah satu sikap yang layak dalam menghadiri majelis  Sufi, karena Allah swt. berfirman, "Dan apabila dibacakan Al Quran, maka  dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu  mendapat rahmat." (Q.s. AI ‘araf. 204). Dan Allah swt. menjelaskan  pertemuan jin dengan Rasul saw. Firman Nya, "... maka tatkala mereka  menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk  mendengarkannya)'." (Q.s. Al Ahqaf 29).&lt;br /&gt;Allah swt. berfirman, "... dan merendahlah semua suara kepada Tuhan  yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja."  (Q.s. Thaaha: 108).&lt;br /&gt;Betapa besar perbedaan antara seorang hamba yang diam, menjaga  dirinya dari kebohongan dan fitnah, dengan hamba yang diam karena takut  kepada raja yang menakutkan. Mengenai makna pernyataan ini, dibacakan  baris-baris syair berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try  {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S885vZNTEAI/AAAAAAAAAHA/vWblbwbHTss/s1600/diam.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 364px; height: 224px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S885vZNTEAI/AAAAAAAAAHA/vWblbwbHTss/s200/diam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462648359406997506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;Aku  merenung, &lt;span1166367&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1166367S5"&gt;apa&lt;/a&gt;&lt;/span1166367&gt;  yang akan kukatakan saat kita berpisah,&lt;br /&gt;Dan terus menerus kusempurnakan ucapan hiba,&lt;br /&gt;Tiba tiba kulupakan ketika kita berjumpa,&lt;br /&gt;Dan, kalau toh aku bicara, kuucapkan kata kata hampa.&lt;br /&gt;Para Sufi juga mendendangkan nada-nada ini:&lt;br /&gt;Betapa banyak kata-kata yang ingin kucurahkan padamu,&lt;br /&gt;Hingga ketika kesempatan bertemu denganmu,&lt;br /&gt;Segalanya jadi kelu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga baris berikut ini:&lt;br /&gt;Kulihat bicara menghiasi oranq muda,&lt;br /&gt;Sedang diam adalah paling baik bagi yang tenang.&lt;br /&gt;Karenanya, betapa banyak huruf yang membawa maut,&lt;br /&gt;Dan betapa banyak pembicara yang berangan&lt;br /&gt;Seandainya ia bisa diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span1166367&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1166367S4"&gt;Ada&lt;/a&gt;&lt;/span1166367&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;  dua jenis diam: Diam lahir dan diam batin. Hati orang yang tawakal  adalah diam pada ketentuan rezeki yang diberikan. Sedang orang 'arif,  hatinya diam untuk berhadapan dengan ketentuan melalui sifat  keselarasan. Yang pertama adalah dengan senantiasa memperbagus  perbuatannya secara kokoh, dan yang kedua, adalah merasa puas terhadap  semua yang ditetapkan oleh Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan untuk diam boleh jadi merupakan ketakjuban yang disebabkan  oleh pemahaman secara mendadak, lantaran apabila masalah tertentu  tiba-tiba tampak jelas, maka kata-kata menjadi bisu dan tidak ada  kefasihan maupun ucapan. Dalam situasi seperti ini, kesaksian  terhapuskan dan tidak dijumpai baik pengetahuan maupun penginderaan.  Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;"(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para Rasul lalu Allah  bertanya (kepada mereka), Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu? 'Para  Rasul menjawab, "Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu). "' (Q.s. Al  Maidah: 109).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas dalam mujahadah adalah diam, sebab mereka mengetahui  bahaya yang terkandung dalam kata-kata. Mereka juga menyadari bahaya  nafsu berbicara, memamerkan sifat-sifat mengundang pujian manusia dan  ambisi untuk meraih popularitas di kalangan sejawatnya karena keindahan  tutur katanya. Mereka menyadari bahwa ini semua termasuk dalam  kelemahan-kelemahan manusia. Ini merupakan gambaran orang yang terlibat  dalam olah ruhani. Diam sebagai salah satu prinsip bagi aturan tahapan  dan penyempurnaan akhlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Dawud ath-Tha'y berkeinginan tetap tinggal di rumah, ia  memutuskan untuk menghadiri majelis Abu Hanifah, sebab ia adalah salah  seorang muridnya. la duduk bersama ulama yang lain, dan tidak memberikan  komentar berkenaan dengan masalah-masalah yang didiskusikan. Ketika  jiwanya menjadi kuat dengan diam dan praktik diam yang dilakukan selama  setahun, ia lalu tinggal di rumah dan memutuskan ber'uzlah.  &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;   &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Bisyr ibnul Harits mengajarkan, “Apabila berbicara menyenangkan &lt;span1166367&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1166367S2"&gt;Anda&lt;/a&gt;&lt;/span1166367&gt;,  diamlah. Apabila diam menyenangkan Anda, berbicaralah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Sahl bin Abdullah menegaskan, "Diam seorang hamba tidak akan sempurna,  kecuali sesudah ia memaksakan diam atas dirinya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Abu Bakr al-Farisy mengatakan, "Apabila tanah kelahiran seorang hamba  bukanlah diam, maka hamba tersebut akan berbicara berlebihan, meskipun  tidak mempergunakan lidahnya. Diam tidak terbatas pada lidah, tetapi  meliputi hati dan semua anggota badan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Salah seorang Sufi berkata, "Orang yang tidak menggunakan diam ketika  berbicara, adalah tolol."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Mumsyad ad-Dinawary berkata, "Orang-orang bijak mewarisi kebijaksanaan  dengan diam dan kontemplasi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Kekita Abu Bakr al-Farisy ditanya tentang diam sirri, dijawabnya, "Diam  sirri adalah menjauhkan diri dari kepedihan terhadap masa lampau dan  masa depan." Dikatakannya &lt;span1166367&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1166367S0"&gt;pula&lt;/a&gt;&lt;/span1166367&gt;, "Apabila seorang hamba berbicara  hanya mengenai sesuatu yang menyangkut kepentingannya, dan keharusan  keharusan bicaranya, maka ia termasuk diam."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Mu'adz bin Jabal r.a. berkata, "Kurangilah berbicara berlebihan dengan  sesama manusia dan perbanyaklah berbicara dengan Tuhanmu, mudah-mudahan  hatimu akan (dapat) melihat Nya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Dzun Nuun al-Mishry ditanya, "Di antara manusia, siapakah pelindung  terbaik bagi hatinya?" Dijawab Dzun Nuun, "Yaitu orang yang paling mampu  menguasai lidahnya. "&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Ibnu Mas'ud berkata, "Tidak ada sesuatu pun yang patut diikat berlama  lama lebih dari lidah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Ali bin Bukkar mencatat, "Allah menjadikan dua pintu bagi segala  sesuatu, tetapi Dia menjadikan empat pintu bagi lidah, yaitu dua bibir  dan dua baris gigi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Konon Abu Bakr ash Shiddiq r.a. biasa mengulum sebutir batu selama  beberapa tahun dengan tujuan agar lebih sedikit berbicara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Abu Hamzah al-Baghdady adalah seorang pembicara ulung. Pada suatu  ketika sebuah suara menyeru kepadanya, "Engkau berbicara, dan bicaramu  sangat bagus. Sekarang tinggallah bagimu untuk berdiarn, sehingga engkau  menjadi bagus!" Akhirnya ia tidak pernah lagi berbicara sampal wafat  menjemputnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Manakala asy-Syibly sedang duduk di tengah lingkaran murid-muridnya dan  mereka tidak mengajukan pertanyaan, maka ia bermaksud akan mengatakan,  "Dan jatuhlah perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka,  maka mereka tidak dapat berkata (apa apa)." (Q.s. An Naml: 85).  Terkadang seseorang yang terbiasa berbicara menjadi diam, karena ada  kaum Sufi yang lebih layak dari dirinya untuk berbicara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Ibnus Sammak menuturkan, bahwa Syah al-Kirmany dan Yahya bin Mu'adz  berteman, dan mereka tinggal di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;  yang sama, tetap Syah tidak menghadiri majelisnya. Ketika ditanya  alasannya, menjawab, "Sudah sepatutnya begini." Orang orang pun lantas  mendesaknya terus hingga suatu hari al-Kirmany &lt;span1166367&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y1166367S7"&gt;datang&lt;/a&gt;&lt;/span1166367&gt; ke  majells Yahya dan duduk di pojok di manaYahya tidak akan dapat  melihatnya. Yahya pun mulai berbicara, namun secara tiba-tiba ia diam.  Kemudian Yahya mengumumkan, '&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;  seseorang yang dapat berbicara lebih baik dariku," dan ia tidak mampu  melanjutkan perkataannya itu. Maka al-Kirmany berkata, "Sudah kukatakan  kepada Anda semua bahwa, adalah lebih baik jika aku tidak datang ke  majelis ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Terkadang seorang pembicara memaksakan diri untuk diam karena keadaan  tertentu yang ada pada salah seorang yang hadir. Barangkali seseorang  yang hadir tidak layak mendengar pembicaraan terkait, hingga Allah swt.  mencegah lidah si pembicara demi ketentraman dan perlindungan dari  mendengar pembicaraan itu. Sehingga Allah swt. menjaganya terhadap  pendengar yang bukan kompetennya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; syeikh yang ahli mengenal tharikat  ini telah menjelaskan, "Terkadang alasan diamnya seseorang adalah karena  ada jin yang hadir, yang bukan kompetennya. Karena majelis Para Sufi  tidak pernah sepi dari kehadiran sekelompok jin."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Syeikh Abu Ali ad Daqqaq menuturkan, "Suatu ketika aku jatuh sakit di  Marw, dan ingin kembali ke Naisabur. Aku bermimpi bahwa sebuah suara  menyeru kepadaku, 'Engkau tidak dapat meninggalkan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ini. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sekelompok jin yang menghadiri  majelis majelismu dan mereka memperoleh manfaat dari ceramah ceramah  yang engkau berikan. Demi mereka, tinggallah di tempatmu'!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Salah seorang ahli hikmah berkata, "Manusia diciptakan hanya dengan  satu lidah, namun dianugerahi dua mata dan dua telinga, agar ia  mendengar dan mau melihat lebih banyak dari berbicara."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta. Ketika ia duduk,  orang-orang mulai bergunjing dan memfitnah satu sama lain. Ia lalu  berkata, "Kebiasaan kami adalah makan daging sesudah makan roti. Anda  ini malah makan daging lebih dahulu. " Ucapannya ini merujuk kepada  firman Allah swt.:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  "Maukah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang mati?  Maka tentulah kamu merasa jijik kepada perbuatan itu." (Q.s. Al Hujurat:  12).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Salah scorang Sufi berkata, "Diam adalah bahasa ketabahan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Sebagian mereka mengatakan, "Belajarlah diam sebagaimana kamu belajar  berbicara. Jika bicara menjadi pembimbingmu, maka diam rnenguatkanmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Dikatakan, "Menjaga lisan adalah lewat diamnya." &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang mengatakan, "Lisan ibarat  binatang buas, jika tidak kamu ikat akan menyerangmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Abu Hafs ditanya, "Keadaan manakah yang lebih baik bagi seorang wali,  diam atau berbicara?" Ia menjawab, "Jika si pembicara mengetahui ada  efek negatif dari pembicaraannya, hendaklah ia tinggal diam, bila  mungkin selama usia Nabi Nuh as. Tetapi jika orang yang diam mengetahui  efek negatif dari diamnya, hendaklah berdoa kepada Allah swt. agar  diberi waktu dua kali usia Nabi Nuh as. agar dapat berbicara (agar bisa  menunjukan kebaikan)."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Dikatakan, "Diam bagi kaum awam dengan lidahnya, diam bagi kaum yang  ma'rifat kepada Allah swt. dengan hatinya, dan diam bagi para pecinta  (muhibbin) adalah menahan pikiran menyimpang yang menyelusup pada hati  sanubari mereka."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Sebagian sufi mengisahkan, 'Aku mengekang lidahku selama tigapuluh  tahun, sehingga aku tidak mendengar ucapanku kecuali dari kalbuku.  Kemudian aku mengekang kalbuku tigapuluh tahun, sehingga tidak mendengar  kalbuku kecuali dari ucapanku."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Salah seorang Sufi mengatakan, "jika lidah Anda didiamkan, maka belum  tentu Anda telah diselamatkan dari kata kata hati Anda. Jika Anda telah  menjadi batang tubuh yang kering kerontang, Anda masih belum terbebas  dari kata kata hawa nafsu Anda. Dan bahkan Jika Anda berjuang dengan  susah payah, jiwa Anda masih belum akan berbicara dengan Anda sebab ia  adalah tempat tersimpannya batin."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Dikatakan, "Lidah seorang tolol adalah kunci menuju kematiannya."  Dikatakan juga, "jika seorang pecinta berdiam diri, maka ia akan binasa,  dan jika seorang 'arif berdiam diri, ia akan berkuasa."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;  Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Barangsiapa memperhitungkan  kata-katanya dibanding amalnya, maka kata-katanya akan menjadi sedikit,  kecuali apa yang berarti (menurut kebutuhannya)."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-4450788628713909880?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/4450788628713909880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/diam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/4450788628713909880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/4450788628713909880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/diam.html' title='Diam'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S885vZNTEAI/AAAAAAAAAHA/vWblbwbHTss/s72-c/diam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-8086837738868775010</id><published>2010-04-21T10:25:00.001-07:00</published><updated>2010-04-22T17:11:11.528-07:00</updated><title type='text'>Mujahadah</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;Syeikh  Abul Qosim Al Qusyairy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan orang orang yang &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try  {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S8839CCk8LI/AAAAAAAAAG4/EZMXP9B65tw/s1600/jihad.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 147px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S8839CCk8LI/AAAAAAAAAG4/EZMXP9B65tw/s200/jihad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462646394682929330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;&lt;i&gt;berjihad  untuk (mencari) keridhaan &lt;span5741963&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5741963S3"&gt;Kami&lt;/a&gt;&lt;/span5741963&gt;, benar benar akan Kami tunjukkan  kepada merekajalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar benar  beserta orang-orang yang berbuat baik." (Q.s. Al Ankabut: 69).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan &lt;span5741963&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5741963S2"&gt;dari&lt;/a&gt;&lt;/span5741963&gt; &lt;span5741963&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5741963S5"&gt;Abu&lt;/a&gt;&lt;/span5741963&gt; Sa'id  al Khudry, bahwa ketika Rasulullah saw. ditanya mengenai jihad terbaik,  beliau menjawab, "Adalah perkataan yang adil yang disampaikan kepada  seorang penguasa yang zallm." (H.r. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).  Maka air mata berlinang dari kedua mata Abu Sa'id ketika mendengar hal  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abu Ali ad Daqqaq r.a. berkata, "Barangsiapa menghiasi  lahiriahnya dengan mujahadah, Allah akan memperindah rahasia batinnya  melalui musyahadah. Siapa yang permulaannya tidak memiliki mujahadah  dalam tharikat ini, ia tidak akan menemui cahaya yang memancar darinya."&lt;br /&gt;Abu Utsman al Maghriby mengatakan, "Adalah kesalahan besar bagi  seseorang membayangkan bahwa dirinya akan mencapai sesuatu di Jalan Nya  atau bahwa sesuatu di Jalan Nya akan tersingkap baginya, tanpa  bermujahadah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abu Ali ad Daqqaq r.a. menegaskan, "Orang yang tidak berdiri  dengan mantap di awal perjalanan spiritualnya tidak akan diizinkan  beristirahat pada akhir perjalanannya." Dikatakannya &lt;span5741963&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5741963S0"&gt;pula&lt;/a&gt;&lt;/span5741963&gt;,  "Gerak adalah suatu berkat." Dan katanya kemudian, "Gerakan-gerakan  dzahir akan melahirkan barakah barakah batin." As Sary berkata, "Wahai  kaum muda, tekunlah kalian, sebelum kamu sekalian menginjak usia seperti  diriku, sehingga kalian lemah dan lengah seperti diriku. " Padahal pada  saat itu tidak seorang pun di antara para pemuda yang mampu menyejajari  langkah as Sary dalam bidang ibadat. &lt;span5741963&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5741963S4"&gt;Saya&lt;/a&gt;&lt;/span5741963&gt;  mendengar al Hasan al Qazzaz berkata, "Jangan makan kecuali amat lapar,  jangan tidur kecuali amat kantuk, jangan bicara kecuali dalam keadaan  darurat.” Ibrahim bin Adham mengatakan, "Seseorang baru akan mencapai  deraiat kesalehan, sesudah melakukan enam hal: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;&amp;quot;;"&gt;Menutup pintu  bersenang senang      dan membuka pintu penderitaan; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;&amp;quot;;"&gt;Menutup pintu keangkuhan dan      membuka  pintu kerendahan hati;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;&amp;quot;;"&gt;Menutup pintu istirahat dan      membuka  pintu perjuangan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;&amp;quot;;"&gt;Menutup pintu tidur dan membuka       pintu jaga;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;&amp;quot;;"&gt;Menutup  pintu kemewahan dan      membuka pintu kemiskinan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;&amp;quot;;"&gt;Menutup pintu harapan duniawi dan       membuka pintu persiapan menghadapi kernatian."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Abu Amr bin Nujayd berkata, "Barangsiapa menghargai hawa  nafsunya      berarti meremehkan agamanya dan pendengarannya."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Abu Ali ar Rudzbary mengatakan,"Apabila seorang Sufi - sesudah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; hari kelaparan       berkata, 'Aku lapar,' kirimlah ia ke pasar untuk mencari nafkah.  Prinsip      mujahadah pada dasarnya adalah mencegah jiwa dari kebiasaan  kebiasaannya      dan memaksanya menentang hawa nafsunya separijang  waktu. "&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Jiwamempunyai dua sifat yang menghalanginya dalam mencapai  kebaikan:      keberlarutan dalam memuja hawa nafsu dan penolakan pada  tindak kepatuhan.      Manakala jiwa menunggang nafsu, maka &lt;span5741963&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5741963S6"&gt;Anda&lt;/a&gt;&lt;/span5741963&gt;  harus mengendalikannya dengan      kendali takawa. Manakala jiwa  bersikukuh menolak untuk selaras dengan      kehendak Tuhan, maka Anda  harus mengendalikannya agar menolak hawa      nafsunya. Manakala jiwa  bangkit memberontak, maka Anda harus mengendalikan      keadaan ini.  Tiada satu hal pun yang berakibat lebih utama selain sesuatu      yang  muncul menggantikan kemarahan yang kekuatannya telah dihancurkan dan       yang nyalanya telah dipadamkan oleh akhlak mulia. Manakala jiwa  menemukan      kemanisan dalam anggur kecongkakan, niscaya ia akan  merana bila tidak      sanggup menunjukkan kemampuannya dan menghiasi  perbuatan- perbuatannya      kepada siapa pun yang melihatnya. Orang  harus memutuskannya dari      kecenderungan seperti ini dan  menyerahkannya pada hukuman kehinaan yang      akan &lt;span5741963&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5741963S7"&gt;datang&lt;/a&gt;&lt;/span5741963&gt;  tatkala diingatkan akan harga dirinya yang rendah, asal      usulnya  yang hina dan amal amalnya yang menjijikkan. Perjuangan kaum awam       berupa pelaksanaan tindakan tindakan; tujuan kaum khawash adalah  menyucikan      keadaan &lt;span5741963&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5741963S1"&gt;spiritual&lt;/a&gt;&lt;/span5741963&gt; mereka. Bertahan dalam lapar  dan jaga, adalah sesuatu      yang mudah. Sedangkan membina akhlak dan  membersihkan semua hal negatif      yang melekat padanya sangatlah  sulit.&lt;br /&gt;   Satu dari sekian sifat jiwa yang merugikan dan paling sulit  dilihat adalah      ketergantungannya pada pujian manusia. Orang yang  bermental seperti ini      berarti menyangga beban langit dan bumi  dengan satu alisnya. Satu pertanda      yang mengisyaratkan mental  seperti ini adalah bahwa apabila pujian orang      tidak diberikan  kepadanya, niscaya la menjadi pasif dan pengecut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Dikabarkan bahwa Abu &lt;span5741963&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5741963S9"&gt;Muhammad&lt;/a&gt;&lt;/span5741963&gt; al Murta'isy berkata, "Aku  berangkat      haji berkali kali seorang diri. Pada suatu ketika aku  menyadari bahwa      segenap upayaku terkotori oleh kegembiraanku dalam  melakukannya. Hal ini      kusadari saat ibu memintaku menarikkan seguci  air untuknya. Jiwaku      merasakan hal ini sebagai beban yang berat.  Saat itulah aku mengetahui      bahwa apa yang kusangka merupakan  kepatuhan kepada Allah swt. dalarn      hajiku selama ini tidak lain  hanyalah kesenanganku semata, yang datang      dari kelemahan dalam  jiwa, karena apabila nafsuku sirna, niscaya tidak      akan mendapati  tugas kewajibanku sebagai sesuatu yang memberatkan dalam      hukurn  syariat."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Pada suatu ketika seorang wanita lanjut usia ditanya mengenai  keadaan      ruhaninya. la menjawab, "Semasa muda, aku berpikir bahwa  keadaan      keadaan ruhani itu berasal dari kekuatan dan semangat yang  tak kujumpal      saat ini, ketika sudah tua, semua itu sirna sudah."&lt;br /&gt;   Dzun Nuun al Mishry berkata, "Penghormatan yang Allah berkenan       memberikannya kepada seorang hamba, maka Allah menunjukkan kehinaan       dirinya; penghinaan yang Allah berkenan menimpakannya kepada  seorang      hamba, maka Allah menyembunylkan kehinaan dirinya dari  pengetahuan akan      kehinaan itu sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Ibrahim al Khawwas menegaskan, "Aku tidak menghadapi seluruh       ketakutanku, kecuali secara langsung menghadapinya dengan       menunggangnya."&lt;br /&gt;   Muhammad bin Fadhl mengatakan, "Istirahat total adalah kebebasan  dari      keinginan hawa nafsu."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Saya mendengar Abu Ali ar Rudzbary berkata, "Bahaya yang menimpa  manusia      datang dari tiga hal: Kelemahan watak, keterpakuan pada  kebiasaan, dan      mempertahankan teman yang merusak." Saya bertanya  kepadanya,      "Apakah kelemahan watak itu?" la menjawab, "Mengonsumsi  hal      hal yang haram." Lalu saya tanyakan, "Apakah keterpakuan pada       kebiasaan itu?" la berkata, "Memandang dan mendengarkan segala       sesuatu yang haram dan melibatkan diri dalam fitnah." Saya bertanya,       "Apakah mempertahankan teman yang merusak itu?" Dijawabnya,      "Itu  terjadi ketika Anda menuruti hasrat nafsu dalam diri, lalu diri       Anda mengikutinya."&lt;br /&gt;   An Nashr Abadzy mengatakan, "Penjara adalah jiwa Anda. Apabila  Anda      melepaskan diri darinya, niscaya akan sampai pada kedamaian."  la juga      berkata, "Aku mendengar Muhammad al Farra' berkisah, bahwa  Abul      Husain al Warraq mengatakan, 'Ketika kami mulai menempuh jalan  Nya lewat      tasawuf di Masjid Abu Utsman al Hiry, praktik terbaik  yang kami lakukan      adalah bahwa kami memprioritaskan kemudahan bagi  orang lain; kami tidak      pernah tidur dengan menyimpan sesuatu tanpa  disedekahkan; kami tidak      pernah menuntut balas kepada seseorang  yang menyinggung hati kami, bahkan      kami selalu memaafkan  tindakannya dan bersikap rendah hati kepadanya; dan      jika kami  memandang hina seseorang dalam hati kami, maka kami akan      mewajibkan  diri kami untuk melayaninya sampai perasaan memandang hina itu       lenyap'."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Abu ja'far berkata, "Nafsu, seluruhnya gelap gulita. Pelitanya  adalah      batinnya. Cahaya pelita ini adalah taufiq. Orang yang tidak  disertai      taufik dari Tuhannya, maka kegelapan akan menyelimutinya."  Ketika      mengatakan, "Pelitanya adalah batinnya," dimaksudkan adalah       rahasia antara dirinya dan Allah swt, yakni tempat keikhlasannya.       Dengannya si hamba tersebut mengetahui bahwa semua peristiwa adalah  karya      Tuhan; peristiwa peristiwa bukanlah ciptaan dirinya, tidak  pula berasal      darinya. Bila mengetahui hal ini, la akan bebas dalam  setiap keadaannya,      dari kekuatan dan kekuasaannya sendirl dalam  melestarikan manfaat      waktunya. Orang yang tidak disertai taufik  tidak akan memperoleh manfaat      dari pengetahuan tentang jiwanya atau  tentang Tuhannya. Itulah sebabnya      mengapa para syeikh mengatakan,  "Orang yang tidak mempunyai sirr akan      terus bersikeras menuruti  hawa nafsunya."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Abu Utsman berkata, "Selama orang melihat setiap sesuatu baik  dalam      jiwanya, la tidak akan mampu melihat kelemahan-kelemahannya.  Hanya orang      yang berani mendakwa dirinya terusmenerus selalu  berbuat salahlah yang      akan sanggup melihat kesalahannya itu."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Abu Hafs mengatakan, "Tidak ada jalan yang lebih &lt;span5741963&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y5741963S8"&gt;cepat&lt;/a&gt;&lt;/span5741963&gt; ke  arah      kerusakan, kecuali jalan orang yang tidak mengetahui  kekurangan diriya,      karena kemaksiatan kepada Tuhan adalah jalan  cepat menuju kekafiran."&lt;br /&gt;   Abu Sulaiman berkata, "Aku tahu bahwa tidak sedikit pun kebaikan       dapat ditemukan dalam suatu perbuatan yang kulakukan sendiri, aku  berharap      diberi pahala karenanya."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   As Sary berkomentar, "Waspadalah terhadap orang yang suka  bertetangga      dengan orang kaya, pembaca pembaca Qur'an yang sering  mengunjungi pasar,      dan ulama ulama yang mendekati penguasa."&lt;br /&gt;   Dzun Nuun al Mishry mengatakan, "Kerusakan merasuki diri manusia       dikarenakan enam hal: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;&amp;quot;;"&gt;Mereka memiliki        niat yang lemah dalam melakukan amal untuk akhirat;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;&amp;quot;;"&gt;Tubuh mereka       diperbudak oleh nafsu;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;&amp;quot;;"&gt;Mereka tidak       henti hentinya  mengharapkan perolehan duniawi, bahkan menjelang ajal;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;&amp;quot;;"&gt;Mereka lebih       suka menyenangkan  makhluk, mengalahkan ridha Sang Pencipta;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;&amp;quot;;"&gt;Mereka       memperturutkan hawa  nafsunya, dan tidak menaruh perhatian yang cukup       kepada Sunnah  Nabi saw.;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;Mereka  membela diri dengan menyebutkan beberapa kesalahan orang lain, dan  mengubur prestasi pendahulunya. "&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-8086837738868775010?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/8086837738868775010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/mujahadah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/8086837738868775010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/8086837738868775010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/mujahadah.html' title='Mujahadah'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S8839CCk8LI/AAAAAAAAAG4/EZMXP9B65tw/s72-c/jihad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-1027757786176388474</id><published>2010-04-21T10:06:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T17:07:17.766-07:00</updated><title type='text'>Khusyu dan Tawadhu'</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;Abul  Qasim al-Qusyairy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. berfirman Allah:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman, mereka yang  khusyu' dalam shalatnya”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;&lt;i&gt;(Q.s. Al Mu'minun: 1 2)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try  {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S88zy8l0M8I/AAAAAAAAAGw/o38NXFPPDJI/s1600/tahajud.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 345px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S88zy8l0M8I/AAAAAAAAAGw/o38NXFPPDJI/s200/tahajud.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462641823374914498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;Diriwayatkan  oleh Abdullah &lt;span17581&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y17581S3"&gt;bin&lt;/a&gt;&lt;/span17581&gt;  Mas'ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda:&lt;br /&gt;“Tidak akan masuk surga, barangsiapa yang dalam hatinya terdapat  kesombongan walau sekecil biji sawi, dan tidak akan masuk neraka  barangsiapa yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sekecil biji  sawi.” Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang  suka berpakaian bagus;"' Beliau menjawab, "Allah swt. Maha Indah dan  menyukai keindahan, sombong adalah berpaling &lt;span17581&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y17581S2"&gt;dari&lt;/a&gt;&lt;/span17581&gt; AI Haq  dan mencemooh manusia." (H.r. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik mengabarkan, "Rasulullah saw. suka mengunjungi orang  sakit, mengiringkan jenazah, mengendarai keledai dan memenuhi undangan  budak-budak. Dalam peperangan melawan bani Quraidhah dan bani Nadhir,  Rasul mengendarai seekor keledai yang diberi tali kendali dari ijuk  korma dan di atasnya diberi pelana ijuk &lt;span17581&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y17581S0"&gt;pula&lt;/a&gt;&lt;/span17581&gt;. "&lt;br /&gt;Khusyu' adalah berkait kepada Allah swt, dan tawadhu' adalah  menyerah kepada Allah dan menjauhi sikap kontra dalam menerima hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah berkata, "Khusyu' adalah hal yang pertama tama hilang dari  agamamu." Ketika salah scorang Sufi ditanya tentang khusyu', ia  menjawab, "Khusyu' adalah tegaknya hati di hadapan Allah swt."&lt;br /&gt;Sahl bin Abdullah menegaskan, "Setan tidak akan mendekati orang yang  hatinya khusyu'." Dikatakan, "Di antara tanda tanda kekhusyu'an hati  seorang hamba adalah manakala ia diprovokasi, disakiti hatinya atau  ditolak, maka ia semua itu diterimanya."&lt;br /&gt;Salah seorang Sufi berkomentar, "Kekhusyu'an hati adalah menahan  mata dari melirik ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;  ke mari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Ali at Tirmidzy menjelaskan, "Khusyu' adalah begini:  jika api hawa nafsu dalam diri seseorang padam, asap dalam dadanya reda  dan cahaya kecemerlangan bersinar dalam hatinya, lalu hawa nafsunya  mati, sementara cahaya keagungan menyinari hatinya, sehingga syahwatnya  mati, dan hatinya hidup khusyu'lah semua anggota badannya."&lt;br /&gt;Al Hasan al Bashry berkata, "Khusyu' adalah rasa takut yang terus  menerus dalam hati."&lt;br /&gt;Ketika al junayd ditanya tentang khusyu', ia menjawab, "Khusyu'  adalah jika hati menghinakan dirinya di hadapan Yang Maha Tahu  kegaiban."&lt;br /&gt;Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;"Hamba hamba Ar Rahman yaitu orang orang yang berjalan di muka bumi  dengan sikap rendah hati." (Q.s. Al Furqan: 63).&lt;br /&gt;Syeikh &lt;span17581&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y17581S6"&gt;Abu&lt;/a&gt;&lt;/span17581&gt;  Ali ad Daqqaq mengatakan, bahwa makna ayat ini adalah hamba hamba Allah  itu berjalan di muka bumi dengan penuh khusyu' dan tawadhu'.&lt;br /&gt;&lt;span17581&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y17581S8"&gt;Saya&lt;/a&gt;&lt;/span17581&gt;  juga mendengar beliau mengatakan, bahwa mereka adalah orang orang yang  tidak memperdengarkan bunyi sandal mereka ketika berjalan.&lt;br /&gt;Kaum Sufi sepakat bahwa tempat khusyu' adalah di dalam hati. Ketika  salah seorang Sufi melihat seorang laki-laki yang memperlihatkan sikap  rendah hati dalam perilaku lahiriahnya, dengan mata yang memandang ke  bawah dan bahu yang rendah, ia berkata kepadanya, "Wahai sahabat,  khusyu' itu di sini," sambil menunjuk ke dadanya, bukan di sini," sambil  menunjuk bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki sedang  mengelus-elus jenggotnya dalam shalat, dan beliau lalu bersabda:&lt;br /&gt;"Jika hatinya khusyu', niscaya anggota badannya juga akan khusyu'."  (H.r. Tirmidzi).&lt;br /&gt;Dikatakan, "Khusyu' dalam shalat berarti seseorang tidak menyadari  siapa yang sedang berdiri di sebelah kanan atau kirinya.&lt;br /&gt;Syeikh ad-Daqqaq berkata, "Khusyu' mirip dengan perkataan, bahwa  hati nurani seseorang dikhidmatkan sambil musyahadah kepada Allah swt."  Dikatakan, "Khusyu' adalah perasaan papa dan hina yang meresap ke dalam  hati manakala menyaksikan Allah swt."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan pula, "Khusyu' adalah kegentaran hati di kala hati  dikuasai hakikat."&lt;br /&gt;Khusyu' adalah mukadimah bagi luapan anugerah.&lt;br /&gt;Dikatakan, "Khusyu' adalah kegentaran hati secara tiba-tiba ketika &lt;span17581&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y17581S7"&gt;Kebenaran&lt;/a&gt;&lt;/span17581&gt;  terungkapkan secara tiba-tiba."&lt;br /&gt;Fudhail bin 'Iyadh menegaskan, bahwa dirinya tidak senang melihat  seseorang terlihat lebih khusyu' daripada batinnya.&lt;br /&gt;Abu Sulaiman ad-Darany berkata, "Seandainyanya semua manusia bersatu  padu untuk menghinakan aku, niscaya mereka tidak akan mampu mencapai  kedalaman dimana aku menghinakan diriku seridiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, "Orang yang tidak merendahkan dirinya, orang lain tidak  akan menghormatinya pula."&lt;br /&gt;Umar bin Abdul Aziz tidak mau bersujud kecuali hanya di tanah.&lt;br /&gt;Mujahid berkata, "Ketika Allah swt. menenggelamkan kaum Nabi Nuh,  gunung-gunung bersikap congkak dan meninggikan diri, tetapi Bukit Judy  merendahkan dirinya. Karena itu, Allah swt. menjadikannya sebagai tempat  mendaratnya perahu Nabi Nuh as."&lt;br /&gt;Umar bin Khaththab r.a. selalu berjalan cepat-cepat, tentang ini  dijelaskannya bahwa berjalan secara demikian akan membawanya lebih cepat  kepada kebutuhan dan menjaganya dari keangkuhan.&lt;br /&gt;Pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz r.a. sedang menulis, lalu  datanglah seorang tamu. Melihat lampu hampir padam, si tamu menawarkan  diri, "Biarlah saya yang membesarkan nyalanya." Tapi Umar menjawab,  "Jangan, tidaklah ramah menjadikan tamu sebagai pelayan!" Maka si tamu  lalu berkata, "Kalau begitu, biarlah saya panggilkan pelayan." Umar  menolak, "Jangan, ia baru saja pergi tidur!" Lalu beliau sendiri pergi  ke tempat penyimpanan minyak dan mengisi lampu itu. Si tamu. berseru,  "Tuan lakukan pekerjaan ini sendiri, wahal Amirul Mukminin?" Umar  berkata kepadanya, "Aku melangkah dari sini sebagai Umar, dan kembali ke  sini masih sebagal Umar pula."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sa'id al-Khudry r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. selalu memberi  makan unta unta, menyapu lantai rumah, memperbaiki sandal, menambal  baju, memerah susu, makan bersama pelayan dan membantunya menggiling  gandum jika pelayan lelah. Beliau tidak pernah merasa malu membawa  barang-barang beliau sendiri dari pasar untuk keluarganya. Beliau biasa  berjabat tangan dengan orang kaya maupun miskin, dan lebih dahulu  memberi salam jika bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw. tidak pernah mencela makanan apa pun yang dihidangkan  kepada beliau, sekalipun hanya berupa kurma kering. Beliau sangat  sederhana dalam hal makanan, lemah lembut dalam berperilaku, mulia dalam  sikap, baik dalam berteman, wajahnya bercahaya, tersenyum tapi tanpa  tertawa, sedih tapi tidak cemberut; rendah hati tapi tidak lembek, murah  hati tapi tidak boros. Rasulullah saw. juga berhati lembut dan kasih  sayang kepada setiap Muslim. Tidak pernah memperlihatkan tanda tanda  telah makan kenyang, dan juga tidak pernah mengulurkan tangan dengan  rakus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fudhail bin 'lyadh berkata, "&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt;  ulama dari Yang Maha Pengasih memiliki sikap khusyu' dan tawadhu',  sedangkan para ulama penguasa memiliki sikap takjub dan sombong." Ia  juga berkomentar, "Barangsiapa menganggap dirinya masih berharga,  berarti tidak memiliki sifat tawadhu' sama sekali."  &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;   &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;Ketika  Fudhail ditanya tentang tawadhu', ia mengajarkan, "Pasrahlah kepada  kebenaran, patuhi dan terimalah ia dari siapa pun yang mengatakannya."&lt;br /&gt;Ketika al junayd ditanya tentang tawadhu', ia menjawab, "Tawadhu'  adalah merendahkan sayap terhadap semua makhluk dan bersikap lembut  kepada mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahb berkata, "Telah tertulis dalam salah satu kitab suci,  'Sesungguhnya Aku (Allah) mengambil sari zat dari tulang sulbi Adam, dan  Aku tidak menemukan hati yang lebih tawadhu' daripada hati Musa as.  Maka Kupilih ia dan Aku berbicara langsung dengannya'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Mubarak mengatakan, "Kesombongan terhadap orang kaya dan  rendah hati terhadap yang miskin adalah bagian dari sifat tawadhu'."&lt;br /&gt;Abu Yazid ditanya, "Bisakah seseorang mencapai sifat tawadhu'?.  Dijawabnya, "jika ia tidak menisbatkan dirinya pada suatu maqam dan  haal, serta menganggap bahwa tidak seorang pun di antara ummat manusia  di &lt;span17581&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y17581S4"&gt;dunia&lt;/a&gt;&lt;/span17581&gt;  ini yang lebih buruk dari dirinya."&lt;br /&gt;Dikatakan, "Tawadhu' adalah anugerah Allah yang tidak pernah iri  dengki orang, dan kesombongan adalah penderitaan yang tidak  membangkitkan belas kasihan. Kemuliaan terletak pada sikap tawadhu', dan  orang yang mencari kemuliaan dalam kesombongan tidak akan pernah  mendapatkannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim bin Syaiban menegaskan, "Kehormatan terletak di dalam sikap  tawadhu', kemuliaan di dalam takwa, dan kemerdekaan di dalam qana'ah."&lt;br /&gt;Abu Sa'id al Araby mengatakan, telah sampai kepadanya tentang Sufyan  ats-Tsaury yang berkata, '&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; macam manusia  termulia di dunia: Ulama yang zuhud, seorang faqih yang Sufi, seorang  kaya yang rendah hati, scorang fakir yang bersyukur, dan seorang  bangsawan yang mengikuti Sunnah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya bin Mu'adz menegaskan, "Kerendahan hati adalah sifat yang  sangat baik bagi setiap orang, tapi ia paling baik bagi seorang yang  kaya. Kesombongan adalah sifat yang menjijikkan bagi setiap orang,  tetapi ia paling menjijikkan jika terdapat pada orang yang miskin."&lt;br /&gt;Ibnu Atha' berkomentar: "Tawadhu' adalah menerima kebenaran dari  siapa pun datangnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, ketika Zaid bin Tsabit sedang mengendarai kuda, Ibnu  Abbas &lt;span17581&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y17581S9"&gt;datang&lt;/a&gt;&lt;/span17581&gt;  mendekatinya agar dapat memegang kendali kudanya. Maka Zaid lalu  mencegahnya, "Jangan, wahai anak paman Rasulullah!" Ibnu Abbas berkata,  "Itulah yang diperintahkan kepada kami terhadap para ulama kami." Maka  Zaid bin Tsabit meraih tangan Ibnu Abbas lalu menciumnya, sambil  berkata, "Ini adalah yang diperintahkan untuk kami lakukan terhadap  keluarga Rasulullah saw."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urwah bin az-Zubair menuturkan, "Ketika aku melihat Ummar bin  Khaththab memikul segantang air di atas pundaknya, aku berkata  kepadanya, 'Wahai Amirul Mukminin, pekerjaan ini tidak patut bagi Anda."  Beliau menjawab, "Ketika para delegasi datang kepadaku, mendengarkan  dan menaatiku, suatu perasaan sombong merasuk ke dalam hatiku, dan kini  aku ingin menghancurkannya." Beliau terus memikul air itu dan membawanya  ke rumah seorang wanita Anshar dan mengisikannya ke dalam gentong milik  wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Nashr as-Sarraj ath-Thausy mengabarkan, "Ketika Abu Hurairah  r.a. menjabat amir &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;di Madinah&lt;/st1:city&gt;,  &lt;st1:state st="on"&gt;ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; pernah terlihat sedang  memikul seikat kayu di atas punggungnya, dan berteriak teriak, 'Beri  jalan untuk amir'!"&lt;br /&gt;Abdullah ar-Razy menjelaskan, "Tawadhu' adalah tidak membedabedakan  dalam memberikan pelayanan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sulaiman ad-Darany berkata, "Barangsiapa yang masih memberikan  nilai kepada dirinya sendiri tidak akan merasakan manisnya ibadat."&lt;br /&gt;Yahya bin Mu'adz mengatakan, "Keangkuhan terhadap orang yang  bersikap sombong terhadapmu dikarenakan kekayaannya, adalah sikap  tawadhu'."  &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;;font-size:10pt;color:black;&amp;quot;;"&gt;Seorang laki-laki datang  kepada asy-Syibly dan bertanyalah kepadanya, "Siapakah engkau?" ia  menjawab, "Wahai tuanku, sebuah titik di bawah ba." Lalu laki laki itu  berkata, "Engkau adalah saksiku, sepanjang engkau menganggap rendah  kedudukan dirimu sendiri."&lt;br /&gt;Ibnu Abbas r.a. mengatakan, "Salah satu bagian tawadhu' adalah bahwa  orang meminum sisa minuman yang ditinggalkan oleh saudaranya."&lt;br /&gt;Bisyr mengajarkan, "Berilah salam kepada para pecinta dunia dengan &lt;span17581&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y17581S1"&gt;cara&lt;/a&gt;&lt;/span17581&gt; tidak  memberi salam kepada mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syu'alb bin Harb menuturkan, "Ketika aku sedang melakukan thawaf di  Ka'bah, seorang buruh laki laki menyikutku, dan aku menoleh kepadanya.  Ternyata orang itu adalah Fudhail bin 'Iyadh, yang berkata, "WahaiAbu  Shalih, jika engkau berpikiran bahwa di antara manusia yang melakukan  ibadat haji ini ada yang lebih hina daripada dirimu atau diriku, maka  betapa buruknya pikiranmu itu'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang Sufi mengatakan, 'Aku melihat seorang laki laki ketika  sedang melakukan thawaf di Ka'bah. Ia sedang dikelilingi oleh orang  orang yang menyanjung dan memujinya. Karena ulah mereka itu, hingga  menghalangi orang lain dari melakukan thawaf, selang beberapa waktu  setelah itu aku melihat ia meminta minta kepada orang orang yang lewat  di sebuah jembatan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Baghdad&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.  Aku terkejut dan heran, ia lalu berkata kepadaku, Aku dulu membanggakan  diri di tempat di mana manusia mestinya merendahkan diri, maka Allah  swt. lalu menimpakan kehinaan kepadaku di tempat di mana manusia  berbangga diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Umar bin Abdul Aziz mendengar bahwa salah seorang putranya  telah membeli sebuah permata yang sangat mahal seharga seribu &lt;span17581&gt;&lt;a href="javascript:void(0);" style="color: rgb(0, 15, 255); text-decoration: underline;" id="Y17581S5"&gt;dirham&lt;/a&gt;&lt;/span17581&gt;.  Beliau lalu menulis surat kepadanya, 'Aku telah mendengar bahwa engkau  telah membeli sebutir permata seharga seribu dirham, jika surat ini  telah sampai ke tanganmu, juallah cincin itu dan berilah makan seribu  orang miskin, selanjutnya buatlah cincin seharga dua dirham, dengan batu  dari besi Cina, dan tulislah padanya, 'Allah mengasihi orang yang  mengetahui harga dirinya yang sebenarnya'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa Jabir bin Hayawah berkomentar, "Ketika Umar bin  Abdul Aziz sedang berkhutbah, ku taksir-taksir pakaian yang dikenakannya  berharga sekitar duabelas dirham saja, yang terdiri dari jubah luar,  surban, celana, sepasang sandal, dan selendang."&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa ketika Abdullah bin Muhammad bin Wasi' berjalan  dengan lagak tak terpuji, ayahnya berkata kepadanya, "Tahukah kamu  dengan harga berapa aku dulu membeli ibumu? Cuma tigaratus dirham. Dan  ayahmu ini, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah manusia yang  sepertinya di kalangan kaum Muslimin. Lantas, dengan orangtua yang  semacam ini, engkau berjalan dengan lagak begitu?"&lt;br /&gt;Hamdun al-Qashshar berkata, "Tawadhu' adalah engkau tidak memandang  dirimu dibutuhkan oleh siapa pun, baik di dunia ini maupun di dalam hal  agama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa Abu Dzar dan Bilal -semoga Allah meridhai mereka  berdua- sedang bertengkar. Abu Dzar menghina Bilal karena kulitnya yang  hitam. Bilal mengadu kepada Rasulullah saw, yang lalu bersabda, "Wahai  'Abu Dzar, sungguh masih ada sifat jahiliyah dalam hatimu!" Mendengar  itu, Abu Dzar menjatuhkan dirinya ke tanah dan bersumpah tidak akan  mengangkat kepalanya sampai Bilal menginjakkan kakinya pada pipinya. Ia  tidak bangunbangun sampai Bilal melakukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika al Hasan bin Ali r.a. berjalan melewati sekelompok anak-anak  yang sedang makan roti, mereka mengajaknya pula makan. Beliau pun turun  dari atas kendaraan dan makan bersama mereka. Kemudian beliau membawa  mereka ke rumah beliau, mengajak mereka makan, memberi mereka pakaian,  dan berkata, 'Aku berhutang budi kepada mereka sebab mereka tidak  memperoleh lebih dari apa yang mereka tawarkan kepadaku, sedangkan aku  memperoleh keuntungan lebih dari itu."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-1027757786176388474?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/1027757786176388474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/khusyu-dan-tawadhu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/1027757786176388474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/1027757786176388474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/khusyu-dan-tawadhu.html' title='Khusyu dan Tawadhu&apos;'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S88zy8l0M8I/AAAAAAAAAGw/o38NXFPPDJI/s72-c/tahajud.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-8779088578053971283</id><published>2010-04-21T09:58:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T17:09:27.464-07:00</updated><title type='text'>Khalwat dan 'Uzlah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Nabi saw.  bersabda:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Di antara cara-cara terbaik bagi manusia dalam mencari  penghidupan adalah seseorang mengendarai kuda dijalan Allah, dan apabila  ia mendengar suara manusia-manusia yang panik atau ketakutan dalam  berperang, ia memacu kudanya mencari mati syahid atau kemenangan di  medan jihad; atau seseorang menggembalakan biri-biri dan kambing-  kambingnya di puncak gunung atau di kedalaman lembah, namun tetap  mendirikan shalat, membayarkan zakat, dan beribadat kepada Tuhan sampai  datang suatu keyakinan. Tidak ada urusan dengan sesama manusia kecuali  didasarkan pada kebaikan. " (H.r. Muslim).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyendiri dari pengaruh duniawi (khalwat) adalah sifat orang-orang  suci. Sedangkan mengasingkan diri (uz1ah) adalah lambang orang yang  berwushul kepada Nya. Memisahkan diri dari manusia sangat diperlukan  bagi murid pada awal kondisi ruhaninya, dan selanjutnya mengasingkan  diri pada akhir kondisi ruhani, karena telah Mencapai keakraban sukacita  ruhaninya. Sikap seorang yang layak ketika memutuskan untuk memisahkan  diri dari manusia adalah meyakini bahwa masyarakat akan terhindar dari  kejahatannya (dengan tindakannya memisahkan diri dari mereka), bukan  bahwa ia akan terhindar dari kejahatan mereka. Sikap pertama adalah  hasil dari seseorang yang memandang rendah dirinya sendiri; sikap kedua  adalah akibat seseorang merasa bahwa dirinya lebih baik dari masyarakat.  Orang yang menganggap dirinya tidak berharga adalah rendah hati, dan  orang yang menganggap dirinya lebih berharga ketimbang orang lain adalah  takabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang melihat seorang rahib dan berkata kepadanya, "Anda seorang  rahib." la menjawab, "Bukan. Aku adalah anjing penjaga. Jiwaku adalah  seekor anjing yang menyerang ummat manusia. Aku telah menjauhkannya dari  mereka supaya mereka aman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang lewat di hadapan syeikh yang saleh. Sementara syeikh itu  bergegas merapatkan jubahnya supaya tidak bersentuhan dengan pakaian  orang tersebut. Orang tersebut bertanya, "Mengapa Anda menarik jubah  Anda? Pakaian saya tidak kotor." Sang syeikh menjawab, "Dugaan Anda  salah. Saya menarik jubah supaya tidak menyentuh pakaian Anda karena  jubah saya kotor; kalau tidak, jubah saya pasti mengotori pakaian Anda.  Jadi bukan karena saya bermaksud menjaga jubah saya supaya tidak  terkotori."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat ber'uzlah dengan tepat, seseorang harus mempunyai  pengetahuan agama untuk memantapkan tauhidnya, agar setan tidak  menggodanya dengan bisikan-bisikannya. Ia juga harus mempunyai  pengetahuan yang dapat diperolehnya dari syariat tentang kewajibannya,  agar segala urusannya berada di atas dasar yang kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, 'uzlah adalah menjauhi sifat-sifat hina, mengubah  sifat-sifat hina tersebut, bukannya menjauhkan diri lewat jarak tempat.  Itulah sebabnya mengapa lahir pertanyaan, "Siapakah orang arif itu?"  Mereka menjawab, "Orang yang ada dan yang jelas, yakni ada bersama  makhluk, jelas namun jauh dari mereka lewat rahasianya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abu Ali ad Daqqaq r.a. berkata, "Aku memakai pakaian  sebagaimana orang banyak memakainya, makan-makanan yang seperti mereka  makan. Namun aku menyendiri dari mereka dalam rahasia." Saya mendengar  ia berkata, "&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;  orang yang datang kepadaku dan bertanya, 'Engkau datang dari jarak yang  jauh?' Saya menjawabnya, 'Pembicaraan ini bukannya peristiwa bepergian  dengan jarak dan ukuran perjalanan. Berpisahlah dari diri Anda sendiri  dalam satu langkah saja, dan Anda pasti mencapai tujuan Anda'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Yazid mengatakan, "Aku melihat Tuhan dalam mimpi, lalu aku  bertanya, 'Bagaimana aku musti menjumpai Mu?' Tuhan menjawab,  'Tinggalkan dirimu dan kemarilah'!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Utsman al Maghriby berkomentar, "Adalah wajar bagi seseorang  yang memutuskan memisahkan diri dari kesertaan bersama sesamanya supaya  bebas dari segala jenis pengingatan, kecuali pengingatan kepada Tuhan,  terbebas dari semua hawa nafsu kecuali keinginan mencari ridha Tuhan,  dan terbebas dari tuntutan diri akan segala sebab duniawi. Apabila tidak  demikian, maka tindakannya berkhalwat hanya akan melemparkannya ke  dalam cobaan atau petaka. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa sendiri dalam khalwat sangat dekat pada ketenangan  jiwa.&lt;br /&gt;Seseorang mengunjungi Abu Bakr al Warraq, dan sewaktu akan pulang,  ia berkata, "Saya telah menemukan yang terbaik dari dunia dan akhirat  dalam khalwat dan kemiskinan, dan saya telah menemukan yang terjelek  dari keduanya (dunia dan akhirat) dalam pergaulan dengan manusia dan  kemewahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditanya tentang, 'uzlah, Abu Muhammad al jurairy menjawab, "'Uzlah  adalah Anda masuk ke dalam kumpulan orang banyak sambil menjaga batin  Anda supaya tidak diharu biru oleh mereka. Anda menjauhkan diri dari  dosa-dosa, dan batin Anda berhubungan dengan Al Haq."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang  mengatakan, "Siapa pun yang memilih 'uzlah akan mencapai kemuliaannya."&lt;br /&gt;Sahl mengatakan, "Khalwat tidak sah, kecuali dengan memakan makanan  halal, dan memakan makanan halal tidak sempurna kecuali menunaikan hak  Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzun Nuun al Mishry mengatakan, "Aku tidak menemukan suatu hal pun  yang lebih baik yang dapat melahirkan keikhlasan selain khalwat."&lt;br /&gt;Abu Abdullah ar Ramly berkata, "Gantilah sahabat Anda dengan  khalwat, makanan Anda adalah lapar, dan ucapan Anda menjadi munajat.  Maka Anda akan mati atau mencapai Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzun Nuun al Mishry mengatakan, "Orang yang menyembunyikan dirinya  dari sesama manusia melalui khalwat tidaklah seperti orang yang  menyembunyikan dirinya dari sesamanya melalui Tuhan."&lt;br /&gt;Al junayd berkata, "Kesulitan dalam 'uzlah lebih mudah diatasi  ketimbang kesenangan berada bersama orang lain." Makhul asy-Syaami  mengatakan, "Memang bergaul dengan sesama manusia ada baiknya, tetapi  ada rasa aman dalam 'uzlah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya bin Mu'adz berkata, "Keheningan adalah sahabat orang jujur.&lt;br /&gt;Abu Bakr asy Syibly selalu mengatakan, "Rusak ... rusak, wahai  sahabat!" Seseorang bertanya kepadanya, "Wahal Abu Bakr, apa pertanda  kerusakan?" la menjawab, "Satu dari sekian kerusakan adalah berakrab  akrab dengan orang banyak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya bin Abu Katsir berkata, "Barangsiapa bergaul dengan orang  banyak haruslah menyenangkan hati mereka, dan barangsiapa menyenangkan  hati mereka berarti telah bertindak munafik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa'id bin Harb mengatakan, "Aku berangkat menemui Malik bin Mas'ud  di Kufah, dan ia sendirian di dalam rumahnya. Aku bertanya, Apakah Anda  tidak merasa takut sendirian? 'la menjawab, Aku tidak menganggap bahwa  seseorang yang bersama Allah swt. adalah ketakutan'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Junayd berkata, "Barangsiapa menginginkan agamanya sehat dan raga  serta jiwanya tentram, lebih baik ia memisahkan diri dari orang banyak.  Sesungguhnya zaman yang penuh ketakutan, dan orang yang bijak adalah  yang memilih kesendiriannya."&lt;br /&gt;AbuYa'qub as Susy menegaskan, "Hanya orang orang yang sangat kuat  sajalah yang harus menyendiri. Akan halnya orang orang seperti kita,  bergaul dengan orang banyak lebih menguntungkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Sylbly memerintah Abul Abbas ad Dimaghani demikian, "Praktikkan  kesendirian dan hapuslah nama Anda dari khalayak, hadapkan muka Anda ke  dinding sampai Anda meninggal dunia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang menemul Syu'ayb bin Harb, yang bertanya, "Mengapa Anda ke  sini?" Orang tersebut menjawab, "Wahai sahabatku! Sesungguhnya ibadat  tidaklah lestari lewat bergabung dengan yang lain. Seseorang yang belum  menjalin kemesraan dengan Allah swt. tidak akan menjadi mesra dengan apa  pun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang ditanya, "Hal mengagumkan apakah yang telah Anda temukan  dalam perjalanan Anda?" la menjawab, "Al Khidhr menjumpaiku dan la ingin  menyertaiku. Aku khawatir la mengacau &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; tawakkalku kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang Sufi ditanya, "Adakah seseorang atau sesuatu di tempat  ini yang dengannya Anda merasa akrab?" la menjawab, '&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;,' lalu la merentangkan tangan untuk  meraih mushaf Al Qur'an. Dengan meletakkan Al Qur'an di atas  pangkuannya, ia menjawab "Ini." Berkenaan dengan makna ucapannya itu,  para Sufi membacakan baris-baris berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-bukumu di sekitarku&lt;br /&gt;tidak meninggalkan tempat tidurku.&lt;br /&gt;Di dalamnya terdapat obat pelipur bagi sakit yang kusembunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang bertanya kepada Dzun Nuun al Mishry, "Kapan 'uzlah yang  tepat bagi diriku?" Ia menjawab, "Ketika Anda sanggup memisahkan diri  Anda dari diri Anda sendiri." Ditanyakan kepada Ibnul Mubarrak, 'Apakah  obat bagi hati yang sakit?" la menjawab, "Berjumpa dengan sesama manusia  sejarang mungkin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, "Apabila Tuhan hendak memindahkan hamba Nya dan kehinaan  kekafiran menuju kemuliaan ketaatan, Dia menjadikannya intim dengan  kesendirian, kaya dalam kesederhanaan, dan mampu melihat kekurangan  dirinya. Barangsiapa telah dianugerahi semua ini berarti telah  mendapatkan yang terbaik dari dunia dan akhirat."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-8779088578053971283?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/8779088578053971283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/khalwat-dan-uzlah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/8779088578053971283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/8779088578053971283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/04/khalwat-dan-uzlah.html' title='Khalwat dan &apos;Uzlah'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-2663372714983898176</id><published>2010-02-04T11:45:00.000-08:00</published><updated>2010-02-04T13:00:52.891-08:00</updated><title type='text'>Memiliki Sifat Zuhud</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S2sx4ldih_I/AAAAAAAAAE8/jebmPkvokpk/s1600-h/zuhud.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 373px; height: 308px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S2sx4ldih_I/AAAAAAAAAE8/jebmPkvokpk/s400/zuhud.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434492223551080434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Inilah sifat yang mulia yang patut setiap hamba belajar untuk memilikinya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari Abul ‘Abbas, Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, ia berkata:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt; جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ اَحَبَّنِيَ اللهُ وَ اَحَبَّنِيَ النَّاسُ فَقَالَ : – اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ-&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه وَ غَيْرُهُ بِاَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Seorang laki-laki datang kepada Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; lalu berkata: ‘&lt;em&gt;Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya, maka aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia&lt;/em&gt;’. Beliau lantas bersabda:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;‘&lt;em&gt;Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pula terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia mencintaimu’.&lt;/em&gt;”&lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;[&lt;strong&gt;Hadits Hasan&lt;/strong&gt;. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya dengan sanad hasan]&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Pelajaran dari Hadits Di Atas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sahabat Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; sangat tamak dalam melakukan setiap kebaikan, mereka adalah manusia yang terdepan dalam melaksanakan kebaikan daripada yang lainnya. Mereka (para sahabat) betul-betul ingin mengetahui suatu amalan yang dapat menyebabkan mereka mendapat kecintaan Allah dan kecintaan manusia. Oleh karena itu, mereka menanyakan hal ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “&lt;em&gt;Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu&lt;/em&gt;” menunjukkan bahwa kecintaan Allah diperoleh dengan seseorang zuhud terhadap dunia.&lt;strong&gt; Definisi yang paling bagus, ‘zuhud terhadap dunia’ adalah seseorang meninggalkan sesuatu yang dapat melalaikannya dari mengingat Allah. &lt;/strong&gt;Definisi ini sebagaimana dinukil dari Al Hafizh Ibnu Rojab ketika beliau menjelaskan hadits ini dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (2/186) dari Abu Sulaiman Ad Daaroniy.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beliau mengatakan:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;“Para ‘alim ulama di Iraq berselisih pendapat mengenai pengertian zuhud. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah menjauhi dari manusia. Ada pula yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan berbagai nafsu syahwat. Ada juga yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan diri dari kekenyangan. Semua definisi ini memiliki maksud yang sama.”&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian Ad Daaroniy mengatakan bahwa beliau cenderung berpendapat bahwa zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang dapat melalaikan dari mengingat Allah ‘azza wa jalla. Definis beliau ini sangatlah bagus. Karena definisi yang beliau ajukan telah mencakup makna dan macam-macam zuhud.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “&lt;em&gt;Zuhudlah pula terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia mencintaimu&lt;/em&gt;”. Manusia dikenal begitu tamak terhadap harta dan berbagai kesenangan di kehidupan dunia. Kebanyakan manusia sangat kikir untuk mengeluarkan hartanya dan enggan untuk berderma. Padahal Allah Ta’ala berfirman:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt; فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْراً لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;/div&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu . Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghaabun: 16)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seharusnya seseorang tidak terkagum-kagum dengan orang yang sangat tamak terhadap dunia dan menampakkan padanya. Jika seseorang merasa cukup dengan apa yang ada pada manusia, dia akan memperoleh kecintaan mereka dan manusia pun akan mencintainya. Jika sudah demikian, maka dia akan selamat dari kejelekan mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Empat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beberapa faedah berharga dari hadits di atas:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Para sahabat sangat bersemangat melakukan sesuatu yang dapat mendatangkan kecintaann Allah dan manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Dalam hadits di atas terdapat dalil adanya sifat mahabbah (kecintaan) bagi Allah ‘azza wa jalla.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Sesungguhnya kebaikan bagi hamba adalah jika Allah mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Untuk memperoleh kecintaan Allah dengan zuhud pada dunia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Sesungguhnya jika seseorang zuhud terhadap apa yang ada pada manusia, maka itu merupakan sebab baginya untuk mendapatkan kecintaan mereka. Dengan zuhud seperti ini akan membuatnya memperoleh kebaikan dan selamat dari berbagai kejelekan manusia.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;  &lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sumber: Penjelasan Hadits 31 Al Arba’in An Nawawiyah, oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr dalam Fathu Qowil Matin&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-2663372714983898176?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/2663372714983898176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/02/memiliki-sifat-zuhud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/2663372714983898176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/2663372714983898176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/02/memiliki-sifat-zuhud.html' title='Memiliki Sifat Zuhud'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S2sx4ldih_I/AAAAAAAAAE8/jebmPkvokpk/s72-c/zuhud.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-720991261293204319</id><published>2010-02-04T11:15:00.000-08:00</published><updated>2010-02-04T11:42:21.484-08:00</updated><title type='text'>Ketegasan Hidup</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain setan dan hawa nafsu, penghalang manusia   &lt;span class="tags" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span&gt;dalam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; menggapai mardatillah   &lt;span class="tags" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span&gt;adalah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;span class="tags"&gt;&lt;span&gt;dunia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; yang diciptakan-Nya ini. Allah SWT menyifati seluruh dunia   &lt;span class="tags"&gt;&lt;span&gt;sebagai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; kesenangan sesaat (QS An-Nisa:77), sesuatu yang sebentar, jika dinikmati adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan (QS Al-Hadid: 20).&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S2sfF55Q2iI/AAAAAAAAAEs/lcDUCLoUUGg/s1600-h/xx.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 382px; height: 254px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S2sfF55Q2iI/AAAAAAAAAEs/lcDUCLoUUGg/s320/xx.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434471561653443106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Iyad berujar, ''''Seandainya dunia adalah emas yang akan sirna, dan akhirat hanyalah tembikar, tetapi akan kekal, maka kita wajib memilih yang kekal daripada yang fana.'''' Selanjutnya dia berujar, ''''Semua kebajikan disimpan dalam sebuah rumah dan kuncinya adalah zuhud di dunia, sedangkan seluruh kejelekan diletakkan di rumah lain dan kuncinya adalah cinta dunia.''''&lt;br /&gt;Bagaimana menyikapi dunia? Allah SWT memerintahkan dunia untuk menjadi pembantu bagi orang yang berorientasi kepada Allah semata. Sebaliknya, dunia adalah tuan bagi orang yang hanya berorientasi dunia belaka. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman, ''''Wahai dunia, siapa saja yang menolong-Ku bantulah dia, dan siapa yang melayanimu, jadikanlah dia sebagai pembantumu!''''&lt;br /&gt;Dunia   &lt;span class="tags"&gt;&lt;span&gt;tidak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; diciptakan sebagai tujuan, tetapi sebagai tempat berjalan bagi manusia, atau sebagai perantara untuk sampai pada rida Allah SWT. Maka dari itu, dia ibarat pelayan, dan pelayan akan bersifat rendah, tidak mungkin dinilai secara agung dan mulia.&lt;br /&gt;Makna kezuhudan kita pada dunia adalah dengan berpaling darinya. Zuhud memunyai surah (contoh) dan hakikat. Surah zuhud, antara lain mencukupkan dan membatasi diri dari aneka ragam makanan, pakaian, dan perhiasan. Inilah yang dulu dilakukan Rasulullah dan sebagian besar sahabat beliau. Namun, ini bukan inti sebenarnya. Zuhud tidak lebih sebagai cara untuk membersihkan hati dari sifat keduniawian.&lt;br /&gt;Dengan demikian hakikat zuhud adalah kesamaan pandangan dan sikap antara penerimaan dan berpalingnya manusia terhadap dunia. Tidak berbeda baginya antara ada dan tidak adanya kebahagiaan dunia di hadapannya. Dengan kata lain, zahid (ahli zuhud) akan merasa sama saat memakai baju seharga seratus ribu atau yang hanya berharga seribu. Jika hati dan perasaannya sama tatkala memiliki harta sejuta pada hari ini dan esoknya memiliki seribu, atau tidak memiliki sama sekali, maka dia zahid yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Jadi seorang zahid tidak harus miskin. Sebaliknya orang yang tidak punya harta belum tentu zahid. Terkadang seseorang tergolong fakir, tetapi dalam pandangan Allah termasuk ahli dunia, karena otaknya hanya memikir dan mengharap dunia, menghasud orang lain yang dikarunia rezeki, membenci, dan mendengki. Terkadang seseorang memunyai harta banyak, tetapi itu tidak membuatnya lupa. Bahkan, ia menafkahkannya di jalan Allah, menyedekahkannya dalam kebaikan, atau menggunakannya untuk kepentingan agama&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-720991261293204319?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/720991261293204319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/02/ketegasan-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/720991261293204319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/720991261293204319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/02/ketegasan-hidup.html' title='Ketegasan Hidup'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S2sfF55Q2iI/AAAAAAAAAEs/lcDUCLoUUGg/s72-c/xx.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-5723619830633407258</id><published>2010-02-04T11:10:00.001-08:00</published><updated>2010-02-04T11:12:08.454-08:00</updated><title type='text'>Yang Harus Diperhatikan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Bismillahirrahmaanirrahiim …&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S2sbr4lFpvI/AAAAAAAAAEk/s8Xvhm_Wd1k/s1600-h/sujud.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 193px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S2sbr4lFpvI/AAAAAAAAAEk/s8Xvhm_Wd1k/s320/sujud.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434467816088905458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketahuilah bahwa cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, sedangkan zuhud terhadap dunia merupakan maqom yang mulia. Dan yang dimaksud dengan zuhud adalah memalingkan diri dari sesuatu yang disukai demi untuk sesuatu yang lebih baik. Telah ma’ruf bahwa yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan dunia, barangsiapa yang meninggalkan segala sesuatu selain ALLAH maka disebut zahid yang sempurna.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bukanlah yang disebut Zuhud itu meninggalkan harta, tetapi yang disebut zuhud itu meninggalkan dunia karena tahu kerusakannya dan berpaling pada akhirat yang kekal. Firman ALLAH SWT: “Apa-apa yang di sisimu akan sirna, dan apa yang disisi ALLAH kan kekal” (QS An-Nahl 16/96). Berkata al-Fudhail: ALLAH menciptakan keburukan dalam satu rumah dan menjadikan cinta dunia sebagai kuncinya, dan ALLAH menciptakan kebaikan dalam satu rumah dan menjadikan Zuhud sebagai kuncinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tingkatan Zuhud ada 3, yang pertama adalah orang yang berusaha untuk Zuhud terhadap dunia dan ia merasa berat, tetapi ia terus berusaha sekuat tenaga, orang ini disebut sebagai mutazahhid dan ini tingkatan yang terendah. Tingkatan kedua adalah ia telah mampu zuhud dengan sukarela tanpa harus menguras kemampuan, tetapi ia dapat melihat kezuhudannya dan dapat merasakan bahwa ia telah meninggalkan dunia dan merasa senang karenanya. Sementara derajat ketiga dan yang tertinggi adalah yang zuhud dengan mudah, dan ia sudah demikian zuhud sehingga merasa biasa saja dengan kezuhudannya karena ia sudah merasa bahwa dunia itu tidak ada nilainya sedikitpun, maka jadilah ia seperti orang yang membuang kotoran dan pergi tanpa menoleh ataupun mengingat lagi, padahal dunia jika dibandingkan dengan sampah masih lebih hina lagi nilainya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Zuhud dilakukan terhadap berbagai hal sbb:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Zuhud terhadap makanan, dalam hadits Nabi SAW disebutkan kata A’isyah ra kepada keponakannya ‘Urwah: “Telah berlalu atas kami bulan baru, bulan baru, bulan baru (3 bulan) sementara tidak pernah menyala api di dapur rumah Nabi SAW dan keluarganya, maka ditanyakan oleh ‘Urwah: Wahai bibinda maka dengan apa kalian makan? Dijawab: Dengan air dan kurma.” (HR Bukhari 8/121 dan Muslim 8/217)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Zuhud terhadap pakaian, diriwayatkan dari Abi Bardah: “Telah keluar A’isyah ra pada kami membawa sehelai selendang kasar dan selembar kain keras sambil berkata: Telah dibungkus jasad Nabi SAW dengan kain seperti ini.” (HR Bukhari 7/195, Muslim 6/145, Abu Daud 4036 dan Turmudzi 1733) Dan berkata Al-Hasan ra: Umar ra pernah berkhutbah saat ia menjabat presiden sementara di bajunya aku hitung ada 12 bekas jahitan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Zuhud terhadap tempat tinggal, dalam hadits disebutkan: “Seorang muslim diberi pahala dari semua harta yang dinafkahkannya, kecuali dari apa yang dibuatnya dari tanah ini (bangunan).” (HR Ibnu Maajah 4163), berkata al-Hasan ra: Aku jika memasuki rumah Nabi SAW, maka kepalaku menyentuh atap daun kurmanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Zuhud dalam alat rumah tangga, dalam hadits disebutkan kata Umar ra: “Saya masuk ke dalam rumah Nabi SAW, sedang ia bertelekan pada sebuah tikar kasar sehingga berbekas pada tubuhnya, maka aku melihat pada perabotannya hanya kulihat segenggam tepung sebanyak 1 sha’.” (HR Bukhari 7/38, Muslim 4/189, 191)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Zuhud yang terbaik menurut Ibnul Mubarak adalah yang menyembunyikan kezuhudannya dari manusia, ciri-cirinya adalah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Ia tidak merasa senang dengan adanya sesuatu dan tidak merasa sedih dengan ketiadaannya, sebagaimana firman ALLAH SWT: “Agar engkau tidak berputus asa atas apa yang hilang darimu dan merasa senang dengan apa yang ada padamu.” (QS al-Hadiid 23) Dan inilah zuhud dalam harta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Sama baginya dicela atau dipuji, ini merupakan tanda zuhud terhadap kedudukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Sangat dekat ia dengan ALLAH, dan hatinya dikuasai kelezatan taat pada ALLAH SWT.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketahuilah bahwa antara cinta pada ALLAH dengan cinta pada dunia sebagaimana air dengan udara dalam sebuah bejana, jika air masuk maka udara akan keluar dari bejana itu sebanyak air yang masuk, maka ada bejana yang dipenuhi air, 2/3 nya, 1/2 nya, dan seterusnya sampai ada yang kosong sama sekali dari air. Maka dimanakah letak hatimu ?!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;In uriidu illal ishlaaha mas tatho’tu …&lt;/p&gt; &lt;p&gt;___&lt;/p&gt; &lt;em&gt;Disarikan dari Kitab Mukhtashar Minhaajul Qaasidiin, Syaikh Ahmad bin Abdirrahman bin Qudamah al-Maqdisiy rahimahullah&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-5723619830633407258?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/5723619830633407258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/02/yang-harus-diperhatikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/5723619830633407258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/5723619830633407258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2010/02/yang-harus-diperhatikan.html' title='Yang Harus Diperhatikan'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/S2sbr4lFpvI/AAAAAAAAAEk/s8Xvhm_Wd1k/s72-c/sujud.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-6522721456240096993</id><published>2009-11-08T04:16:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T04:32:57.898-08:00</updated><title type='text'>Buku Zuhud</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;100 Tokoh Zuhud        &lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" align="right"&gt;    &lt;a href="javascript:void%20window.open('http://book.bukusenayan.com/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=emailform&amp;amp;id=102',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no');" title="E-mail"&gt;    &lt;img src="http://book.bukusenayan.com/images/M_images/emailButton.png" alt="E-mail" name="image" align="middle" border="0" /&gt;   &lt;/a&gt;    &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;    &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;                &lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="2" valign="top"&gt;    &lt;p&gt;&lt;img src="http://book.bukusenayan.com/images/stories/buku/umum/100_Tokoh_Zuhud.gif" alt="Image" title="Image" width="75" align="left" border="0" height="113" hspace="6" /&gt;Sungguh mengagumkan ada seorang Gubernut yang miskin bahkan lebih miskin dari rakyatnya, Khalifah Umar Bin Khaththab sangat kaget ketika mendengar berita ini. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini salah satu kutipan kisah pada buku ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buku ini memuat 100 Tokoh Zuhud yang luar biasa dimulai dari Rasulullah saw.,  sahabat,  Tabi'in dan Tabi'it-Tabi'in. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Nilai-nilai moral dan akhlak selalu mengalami pengikisan pada setiap diri manusia di jagad bumi–termasuk pula diri kita, kaum Muslimin. Itulah sebabnya Allah swt. mengutus para rasul-Nya yang mulia untuk meluruskan kaum yang ingkar hingga kembali ke fitrah kebenaran. Selain itu, akhlak para rasul patut dan layak dijadikan uswah (teladan) yang hakiki. Namun, godaan setan, tarikan syahwat duniawi, dan jiwa lalai menghamba pada-Nya membuat kita semakin sulit hidup berislam seperti Rasul saw. dan pribadi-pribadi teladan lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan zuhud sebagai salah satu pilar akhlak mulia. Sepanjang lintasan sejarah, Islam memiliki pribadi zuhud teladan yang mengagumkan kawan maupun lawan. Mereka hidup zuhud di masanya. Namun, zuhud mereka mampu mendidik dan memberi contoh kepada kita perihal ketaatan beribadah, hidup sederhana, penunaian amanah, latihan menguasai syahwat, jiwa tafaqquh fid-din, optimalisasi diri untuk membela umat, perasaan pantang menyerah, tak mudah tergoda perhiasan dunia, kerinduan berjumpa dengan Allah swt. dan mendapat surga-Nya, kecintaan kepada kaum yang miskin dan lemah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Buku ini secara nyata memuat 100 tokoh manusia zuhud yang mengesankan bagi jiwa-jiwa yang telah dahaga dan merindukan siraman kisah teladan yang penuh dengan keimanan kepada Allah swt. dan akhlak mulia yang mengagumkan. Ditulis dengan bahasa deskripsi yang indah dan sederhana, membuat buku ini enak dibaca dan mudah dipahami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Daftar Isi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengantar Penerbit&lt;br /&gt;Mukadimah&lt;br /&gt;Perkataan Ulama tentang Zuhud&lt;br /&gt;1. Nabi Muhammad saw.&lt;br /&gt;2. Nabi Dawud a.s.&lt;br /&gt;3. Nabi Isa a.s.&lt;br /&gt;4. Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.&lt;br /&gt;5. ‘Umar bin Khaththab r.a.&lt;br /&gt;6. ‘Utsman bin ‘Affan r.a.&lt;br /&gt;7. Ali bin Abu Thalib r.a.&lt;br /&gt;8. ‘Umar bin Abdul ‘Aziz r.a.&lt;br /&gt;9. ‘Utsman bin Mazh‘un r.a.&lt;br /&gt;10. Mush‘ab bin ‘Umair r.a.&lt;br /&gt;11. Abu ‘Ubaidah bin Jarrah r.a.&lt;br /&gt;12. Mu‘adz bin Jabal r.a.&lt;br /&gt;13. Said bin ‘Amir al-Jumahi r.a.&lt;br /&gt;14. ‘Umair bin Sa‘d r.a.&lt;br /&gt;15. Abdullah bin Mas‘ud r.a.&lt;br /&gt;16. Abu Dzar al-Ghifari r.a.&lt;br /&gt;17. Abu Darda’ r.a.&lt;br /&gt;18. Thalhah bin ‘Ubaidillah r.a.&lt;br /&gt;19. Salman al-Farisi r.a.&lt;br /&gt;20. Khudzaifah bin Yaman r.a.&lt;br /&gt;21. Abu Hurairah r.a.&lt;br /&gt;22. Abdullah bin ‘Umar bin Khaththab r.a.&lt;br /&gt;23. Harim bin Hayyan r.a.&lt;br /&gt;24. ‘Amr bin ‘Utbah&lt;br /&gt;25. Uwais al-Qarni&lt;br /&gt;26. ‘Amir bin Qais&lt;br /&gt;27. Abu Muslim al-Khaulani&lt;br /&gt;28. ‘Alqamah bin Qais&lt;br /&gt;29. Rabi‘ bin Khutsaim&lt;br /&gt;30. Masruq bin Ajda`&lt;br /&gt;31. Ahnaf bin Qais&lt;br /&gt;32. Shafwan bin Muhriz&lt;br /&gt;33. Aswad an-Nakh‘i&lt;br /&gt;34. Yazid bin Aswad&lt;br /&gt;35. Shilah bin Asyam&lt;br /&gt;36. Syaqiq bin Salmah&lt;br /&gt;37. Mutharrif bin Syikhkhir&lt;br /&gt;38. Ibrahim at-Taimi&lt;br /&gt;39. Zainal ‘Abidin Ali bin Husain r.a.&lt;br /&gt;40. Sa‘id bin Jubair&lt;br /&gt;41. Ibrahim an-Nakh‘i&lt;br /&gt;42. Abdullah bin Muhairiz&lt;br /&gt;43. Salim bin Abdullah bin ‘Umar bin Khaththab r.a.&lt;br /&gt;44. Thawus bin Kaisan&lt;br /&gt;45. Bakr bin Abdullah al-Muzanni&lt;br /&gt;46. Muslim bin Yasar&lt;br /&gt;47. Hasan al-Bashri&lt;br /&gt;48. Muhammad bin Sirin&lt;br /&gt;49. Thalhah bin Musharrif&lt;br /&gt;50. ‘Atha’ bin Rabah&lt;br /&gt;51. Wahb bin Munabbih&lt;br /&gt;52. ‘Aun bin Abdullah bin ‘Utbah&lt;br /&gt;53. Yazid ar-Raqasyi&lt;br /&gt;54. Bilal bin Sa‘d&lt;br /&gt;55. Muhammad bin Wasi‘&lt;br /&gt;56. ‘Amir bin Abdullah bin Zubair bin ‘Awwam&lt;br /&gt;57. Tsabit al-Bunani&lt;br /&gt;58. Muhammad bin Munkadir&lt;br /&gt;59. Ayyub as-Sikhtiyani&lt;br /&gt;60. Malik bin Dinar&lt;br /&gt;61. Manshur bin Mu‘tamir&lt;br /&gt;62. Shafwan bin Sulaim&lt;br /&gt;63. Ziyad bin Abu Ziyad&lt;br /&gt;64. Rabi‘Ah ar-Ra’yi&lt;br /&gt;65. Yunus bin ‘Ubaid&lt;br /&gt;66. Salamah bin Dinar&lt;br /&gt;67. ‘Atha’ as-Salimi&lt;br /&gt;68. Sulaiman at-Taimi&lt;br /&gt;69. Kahmas bin Hasan al-Qaisi&lt;br /&gt;70. Imam Abu Hanifah an-Nu‘man&lt;br /&gt;71. Abdullah bin ‘Aun&lt;br /&gt;72. Hassan bin Abu Sinan&lt;br /&gt;73. Wuhayyib bin Ward&lt;br /&gt;74. Al-Auza‘i&lt;br /&gt;75. Ibnu Abi Dzi’b&lt;br /&gt;76. Haiwah bin Syuraih&lt;br /&gt;77. Sulaiman al-Khawwash&lt;br /&gt;78. Sufyan ats-Tsauri&lt;br /&gt;79. Ibrahim bin Adham&lt;br /&gt;80. Dawud ath-Tha’i&lt;br /&gt;81. Warrad al-‘Ajli&lt;br /&gt;82. Laits bin Sa‘d&lt;br /&gt;83. Imam Malik&lt;br /&gt;84. Dhaigham bin Malik&lt;br /&gt;85. Ibnu Mubarak&lt;br /&gt;86. Abdullah al-‘Umari&lt;br /&gt;87. Fudhail bin ‘Iyadh&lt;br /&gt;88. Abdullah bin Idris&lt;br /&gt;89. Syaqiq al-Balkhi&lt;br /&gt;90. Yusuf bin Asbath&lt;br /&gt;91. Waki‘ bin Jarrah&lt;br /&gt;92. Ma‘ruf al-Karkhi&lt;br /&gt;93. Imam Syafi’i&lt;br /&gt;94. Abu Sulaiman ad-Darani&lt;br /&gt;95. Manshur bin ‘Ammar&lt;br /&gt;96. Bisyr al-Hafi&lt;br /&gt;97. Hatim al-Asham&lt;br /&gt;98. Imam Ahmad bin Hanbal&lt;br /&gt;99. As-Sarri as-Saqthi&lt;br /&gt;100. Abdushshamad bin ‘Umar&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-6522721456240096993?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/6522721456240096993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/11/buku-zuhud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/6522721456240096993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/6522721456240096993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/11/buku-zuhud.html' title='Buku Zuhud'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-8922187771166320141</id><published>2009-11-08T01:52:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T03:55:03.267-08:00</updated><title type='text'>Kehidupan Dunia Kesenangan Yang Menipu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;"Allah berfirman&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Traditional Arabic;font-size:6px;"  &gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: verdana;font-family:times new roman;font-size:180%;"  &gt;اعْلَمُوا أَنَّمَا  الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ  وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ  نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي  الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ  الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:180%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”&lt;/em&gt; (QS. Al-Hadid: 20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu, batil, dan sekadar permainan. Yang dimaksud sekadar permainan adalah sesuatu yang tiada bermanfaat dan melalaikan. Ayat ini juga menunjukkan bahwa dunia adalah perhiasan, dan orang-orang yang terfitnah dengan dunia menjadikannya sebagai perhiasannya dan tempat untuk saling bermegah-megahan dengan kenikmatan yang ada padanya berupa anak-anak, harta-benda, kedudukan dan yang lainnya sehingga lalai dan tidak beramal untuk akhiratnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah menyerupakan kehancuran dunia dan kefanaannya yang begitu cepat dengan hujan yang turun ke permukaan bumi. Ia menumbuhkan tanaman yang menghijau lalu kemudian berubah menjadi layu, kering dan pada akhirnya mati. Demikianlah kenikmatan dunia, yang pasti pada saatnya akan punah dan binasa. Maka barangsiapa mengambil pelajaran dari permisalan yang disebutkan di atas, akan mengetahui bahwa dunia ibarat es yang semakin lama semakin mencair dan pada akhirnya akan hilang dan sirna. Sedangkan segala apa yang ada di sisi Allah adalah lebih kekal, dan akhirat itu lebih baik dan utama sebagaimana lebih indah dan kekalnya permata dibandingkan dengan es. Apabila seseorang mengetahui dengan yakin akan perbedaan antara dunia dan akhirat dan dapat membandingkan keduanya, maka akan timbul tekad yang kuat untuk menggapai kebahagian dunia akhirat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Definisi Zuhud&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Banyak sekali penjelasan ulama tentang makna zuhud. Umumnya mengarah kepada makna yang hampir sama. Di sini akan disampaikan sebagian dari pendapat tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;ins datetime="2007-01-30T09:18:07+00:00"&gt;Makna secara bahasa:&lt;/ins&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Zuhud menurut bahasa berarti berpaling dari sesuatu karena hinanya sesuatu tersebut dan karena (seseorang) tidak memerlukannya. Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan &lt;em&gt;“syaiun zahidun”&lt;/em&gt; yang berarti &lt;em&gt;“sesuatu yang rendah dan hina”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;ins datetime="2007-01-30T09:18:07+00:00"&gt;Makna secara istilah:&lt;/ins&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Taimiyah mengatakan – sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim – bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sini zuhud ditafsirkan dengan tiga perkara yang semuanya berkaitan dengan perbuatan hati:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Bagi seorang hamba yang zuhud, apa yang ada di sisi Allah lebih dia percayai daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Hal ini timbul dari keyakinannya yang kuat dan lurus terhadap kekuasaan Allah. Abu Hazim az-Zahid pernah ditanya, &lt;em&gt;“Berupa apakah hartamu?”&lt;/em&gt; Beliau menjawab, &lt;em&gt;“Dua macam. Aku tidak pernah takut miskin karena percaya kepada Allah, dan tidak pernah mengharapkan apa yang ada di tangan manusia.”&lt;/em&gt; Kemudian beliau ditanya lagi, &lt;em&gt;“Engkau tidak takut miskin?”&lt;/em&gt; Beliau menjawab, &lt;em&gt;“(Mengapa) aku harus takut miskin, sedangkan Rabb-ku adalah pemilik langit, bumi serta apa yang berada di antara keduanya.”&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apabila terkena musibah, baik itu kehilangan harta, kematian anak atau yang lainnya, dia lebih mengharapkan pahala karenanya daripada mengharapkan kembalinya harta atau anaknya tersebut. Hal ini juga timbul karena keyakinannya yang sempurna kepada Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Baginya orang yang memuji atau yang mencelanya ketika ia berada di atas kebenaran adalah sama saja. Karena kalau seseorang menganggap dunia itu besar, maka dia akan lebih memilih pujian daripada celaan. Hal itu akan mendorongnya untuk meninggalkan kebenaran karena khawatir dicela atau dijauhi (oleh manusia), atau bisa jadi dia melakukan kebatilan karena mengharapkan pujian. Jadi, apabila seorang hamba telah menganggap sama kedudukan antara orang yang memuji atau yang mencelanya, berarti menunjukkan bahwa kedudukan makhluk di hatinya adalah rendah, dan hatinya dipenuhi dengan rasa cinta kepada kebenaran.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hakekat zuhud itu berada di dalam hati, yaitu dengan keluarnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari hati seorang hamba. Ia jadikan dunia (hanya) di tangannya, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya. Lihatlah Nabi, teladan bagi orang-orang yang zuhud, beliau mempunyai sembilan istri. Demikian juga Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, sebagai seorang penguasa mempunyai kekuasaan yang luas sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Para Shahabat, juga mempunyai istri-istri dan harta kekayaan, yang di antara mereka ada yang kaya raya. Semuanya ini tidaklah mengeluarkan mereka dari hakekat zuhud yang sebenarnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Tingkatan Zuhud&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa tingkatan zuhud sesuai dengan keadaan setiap orang yang melakukannya, yaitu:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Berusaha untuk hidup zuhud di dunia; sementara ia menghendaki (dunia tersebut), hati condong kepadanya dan selalu menoleh ke arahnya, akan tetapi ia berusaha melawan dan mencegahnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang meninggalkan dunia dengan suka rela, karena di matanya dunia itu rendah dan hina, meskipun ada kecenderungan kepadanya. Dan ia meninggalkan dunia tersebut (untuk akhirat), bagaikan orang yang meninggalkan uang satu dirham untuk mendapatkan uang dua dirham (maksudnya balasan akhirat itu lebih besar daripada balasan dunia).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang zuhud dan meninggalkan dunia dengan hati yang lapang. Ia tidak melihat bahwa dirinya meninggalkan sesuatu apapun. Orang seperti ini bagaikan seseorang yang hendak masuk ke istana raja, terhalangi oleh anjing yang menjaga pintu, lalu ia melemparkan sepotong roti ke arah anjing tersebut sehingga membuat anjing tersebut sibuk (dengan roti tadi), dan ia pun dapat masuk (ke istana) untuk menemui sang Raja dan mendapatkan kedekatan darinya. Anjing di sini diumpamakan sebagai syaitan yang berdiri di depan pintu (kerajaan/surga) Allah, yang menghalangi manusia untuk masuk ke dalamnya, sementara pintu tersebut dalam keadaan terbuka. Adapun roti diumpamakan sebagai dunia, maka barangsiapa meninggalkannya niscaya akan memperoleh kedekatan dari Allah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Hal-Hal yang Mendorong untuk Hidup Zuhud&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Keimanan yang kuat dan selalu ingat bagaimana ia berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat guna mempertanggung-jawabkan segala amalnya, yang besar maupun yang kecil, yang tampak ataupun yang tersembunyi. Ingat! betapa dahsyatnya peristiwa datangnya hari kiamat kelak. Hal itu akan membuat kecintaannya terhadap dunia dan kelezatannya menjadi hilang dalam hatinya, kemudian meninggalkannya dan merasa cukup dengan hidup sederhana.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. Merasakan bahwa dunia itu membuat hati terganggu dalam berhubungan dengan Allah, dan membuat seseorang merasa jauh dari kedudukan yang tinggi di akhirat kelak, dimana dia akan ditanya tentang kenikmatan dunia yang telah ia peroleh, sebagaimana firman Allah,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”&lt;/em&gt; (QS. At-Takaatsur: 6)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perasaan seperti ini akan mendorong seorang hamba untuk hidup zuhud.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3. Dunia hanya akan didapatkan dengan susah payah dan kerja keras, mengorbankan tenaga dan pikiran yang sangat banyak, dan kadang-kadang terpaksa harus bergaul dengan orang-orang yang berperangai jahat dan buruk. Berbeda halnya jika menyibukkan diri dengan berbagai macam ibadah; jiwa menjadi tentram dan hati merasa sejuk, menerima takdir Allah dengan tulus dan sabar, ditambah akan menerima balasan di akhirat. Dua hal di atas jelas berbeda dan (setiap orang) tentu akan memilih yang lebih baik dan kekal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4. Merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak menyebutkan tentang kehinaan dan kerendahan dunia serta kenikmatannya yang menipu (manusia). Dunia hanyalah tipu daya, permainaan dan kesia-siaan belaka. Allah mencela orang-orang yang mengutamakan kehidupan dunia yang fana ini daripada kehidupan akhirat, sebagaimana dalam firman-Nya,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).”&lt;/em&gt; (QS. An-Naaziat: 37-39)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam ayat yang lainnya Allah berfirman,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”&lt;/em&gt; (QS. Al-A’laa: 16-17)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semua dalil-dalil, baik dari Al-Qur’an maupun as-Sunnah, mendorong seorang yang beriman untuk tidak terlalu bergantung kepada dunia dan lebih mengharapkan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Zuhud yang Bermanfaat dan Sesuai Dengan Syariat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Zuhud yang disyariatkan dan bermanfaat bagi orang yang menjalaninya adalah zuhud yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat demi menggapai kehidupan akhirat. Adapun sesuatu yang memberi manfaat bagi kehidupan akhirat dan membantu untuk menggapainya, maka termasuk salah satu jenis ibadah dan ketaatan. Sehingga berpaling dari sesuatu yang bermanfaat merupakan kejahilan dan kesesatan sebagaimana sabda Nabi,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Carilah apa yang bermanfaat bagi dirimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim hadits no. 4816)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yang bermanfaat bagi seorang hamba adalah beribadah kepada Allah, menjalankan ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya. Dan semua yang menghalangi hal ini adalah perkara yang mendatangkan kemudharatan dan tidak bermanfaat. Yang paling berguna bagi seorang hamba adalah mengikhlaskan seluruh amalnya karena Allah. Orang yang tidak memperhatikan segala yang dicintai dan dibenci oleh Allah dan rasul-Nya akan banyak menyia-nyiakan kewajiban dan jatuh ke dalam perkara yang diharamkan; meninggalkan sesuatu yang merupakan kebutuhannya seperti makan dan minum; memakan sesuatu yang dapat merusak akalnya sehingga tidak mampu menjalankan kewajiban; meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar; meningalkan jihad di jalan Allah karena dianggap mengganggu dan merugikan orang lain. Pada akhirnya, orang-orang kafir dan orang-orang jahat mampu menguasai negeri mereka dikarenakan meninggalkan jihad dan amar ma’ruf -tanpa ada maslahat yang nyata-.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah berfirman,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.’”&lt;/em&gt; (QS. Al-Baqarah: 217)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah menjelaskan dalam ayat ini, walaupun membunuh jiwa itu merupakan keburukan, akan tetapi fitnah yang ditimbulkan oleh kekufuran, kezaliman dan berkuasanya mereka (orang-orang kafir) lebih berbahaya dari membunuh jiwa. Sehingga menghindari keburukan yang lebih besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan adalah lebih diutamakan. Seumpama orang yang tidak mau menyembelih hewan dengan dalih bahwa perbuatan tersebut termasuk aniaya terhadap hewan. Orang seperti ini adalah jahil, karena hewan tersebut pasti akan mati. Disembelihnya hewan tersebut untuk kepentingan manusia adalah lebih baik daripada mati tanpa mendatangkan manfaat bagi seorang pun. Manusia lebih sempurna dari hewan, dan suatu kebaikan tidak mungkin bisa sempurna untuk manusia kecuali dengan memanfaatkannya, baik untuk dimakan, dijadikan sebagai kendaraan atau yang lainya. Yang dilarang oleh Nabi adalah menyiksanya dan tidak menunaikan hak-haknya yang telah tetapkan oleh Allah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nabi bersabda,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu, maka jikalau kalian membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan baik, hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim hadits no. 3615)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Zuhud yang Bid’ah dan Menyelisihi Syari’at&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Zuhud yang menyelisihi Sunnah tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Karena ia menganiaya hati dan membutakannya, membuat agama menjadi buruk dan hilang nilai-nilai kebaikannya yang diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya, menjauhkan manusia dari agama Allah, menghancurkan peradaban, dan memberi kesempatan bagi musuh-musuh Islam untuk menguasai mereka; merendahkan kemuliaan seseorang serta menjadikan seorang hamba menyembah kepada selain Allah. Berikut ini beberapa perkataan para penyeru zuhud yang menyelisihi petunjuk Nabi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perkataan Junaid, salah seorang penyeru zuhud yang menyelisihi syariat, &lt;em&gt;“Saya senang kalau seorang pemula dalam kezuhudan tidak menyibukkan diri dengan tiga perkara agar tidak berubah keadaannya, yaitu bekerja untuk mendapatkan rezeki, menuntut ilmu hadist, dan menikah. Dan lebih aku senangi jika seorang sufi tidak membaca dan menulis agar niatnya lebih terarah.”&lt;/em&gt; (Kitab &lt;em&gt;Quatul-Qulub&lt;/em&gt; 3/135, kitab karya Junaid).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perkataan Abu Sulaiman ad-Darani, &lt;em&gt;“Jika seseorang telah menuntut ilmu, pergi mencari rezeki atau menikah, maka dia telah bersandar kepada dunia.”&lt;/em&gt; (Kitab &lt;em&gt;Al-Futuhat Al-Makiyah&lt;/em&gt;, 1/37).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Padahal telah dimaklumi bahwa semua peradaban di dunia ini tidak mungkin tegak dan berkembang kecuali dengan tiga perkara, yaitu dengan bekerja, mencari ilmu, dan menikah demi meneruskan keturunan manusia. Rasulullah sendiri telah memerintahkan kita bekerja mencari rezeki sebagaimana dalam sabda beliau,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya nabi Allah, Dawud, makan dari hasil kerja tangannya.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari, III/8 hadits no. 1930)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan Rasulullah telah memerintahkan umatnya untuk menikah. Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan (lahir dan batin) untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Sesungguhnya pernikahan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Sedangkan untuk yang tidak mampu, hendaklah berpuasa karena puasa itu dapat menjaganya (yaitu benteng nafsu).”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari, VI/117)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beliau juga memerintahkan kaum muslimin menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun dunia, sebagaimana sabdanya,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.”&lt;/em&gt; (Ibnu Majah hadits no. 220. Hadist Sahih, lihat Kitab &lt;em&gt;Al-Jami’ As-Shahih&lt;/em&gt; no. 3808 karya Al-Bani)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wajib di sini adalah dalam menuntut ilmu agama. Adapun ilmu duniawi, tidak ada seorang pun yang berselisih tentang pentingnya ilmu tersebut, baik berupa ilmu kesehatan, ilmu perencanaan maupun ilmu lainnya yang manusia tidak mungkin terlepas darinya. Terpuruknya kaum muslimin ke dalam jurang kehinaan dan kemunduran pada masa sekarang ini tidak lain akibat kelalaian mereka dalam menuntut ilmu agama yang benar, merasa cukup dengan ilmu duniawi yang mereka ambil dari musuh-musuh mereka dalam berbagai macam aspek kehidupan, baik yang besar maupun yang kecil, banyak maupun sedikit, yang semuanya berujung kepada kebinasaan, hilangnya agama, akhlak, dan hal-hal utama lainnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Khatimah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai penutup tulisan ini, marilah kita lihat bagaimana kehidupan generasi pertama dan terbaik dari umat ini, generasi sahabat yang hidup di bawah naungan wahyu Ilahi dan didikan Nabi. Salah seorang tokoh generasi tabi’in, Imam al-Hasan al-Bashri berkata, &lt;em&gt;“Aku telah menjumpai suatu kaum dan berteman dengan mereka. Tidaklah mereka itu merasa gembira karena sesuatu yang mereka dapatkan dari perkara dunia, juga tidak bersedih dengan hilangnya sesuatu itu. Dunia di mata mereka lebih hina daripada tanah. Salah seorang di antara mereka hidup satu atau dua tahun dengan baju yang tidak pernah terlipat, tidak pernah meletakkan panci di atas perapian, tidak pernah meletakkan sesuatu antara badan mereka dengan tanah (beralas) dan tidak pernah memerintahkan orang lain membuatkan makanan untuk mereka. Bila malam tiba, mereka berdiri di atas kaki mereka, meletakkan wajah-wajah mereka dalam sujud dengan air mata bercucuran di pipi-pipi mereka dan bermunajat kepada Allah agar melepaskan diri mereka dari perbudakan dunia. Ketika beramal kebaikan, mereka bersungguh-sungguh dengan memohon kepada Allah untuk menerimanya. Apabila berbuat keburukan, mereka bersedih dan bersegera meminta ampunan kepada Allah. Mereka senantiasa dalam keadaan demikian. Demi Allah, tidaklah mereka itu selamat dari dosa kecuali dengan ampunan Allah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada mereka.” Wallahu A’lam.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Referensi:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Qawaid wa Fawaid min Al-Arbaina An-Nawawiyah&lt;/em&gt;, karya Nazim Mohammad Sulthan ; cet. Ke-2. 1410; Dar-Alhijrah, Riyadh, KSA.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Makarimul-Akhlaq&lt;/em&gt;, karya Syakhul-Islam Ibn Taimiyah ; cet. Ke-1. 1313 ; Dar- alkhair, Bairut, Libanon.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Tazkiyatun-Nufus&lt;/em&gt;, karya Doktor Ahmad Farid ; Dar- Alqalam, Bairut, Libanon.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Mukhtashar Minhajul-Qashidin&lt;/em&gt;, karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Maktabah Dar Al-Bayan, Damsiq, Suria.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-8922187771166320141?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/8922187771166320141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/11/kehidupan-dunia-kesenangan-yang-menipu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/8922187771166320141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/8922187771166320141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/11/kehidupan-dunia-kesenangan-yang-menipu.html' title='Kehidupan Dunia Kesenangan Yang Menipu'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-2249579537784265755</id><published>2009-10-30T12:19:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T12:22:02.712-07:00</updated><title type='text'>Mencintai Yang Semestinya Dicintai</title><content type='html'>Penulis: Makky Lazuardi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran sesuatu hal dalam diri kita kadang membawa sebuah kedekatan hati pada hal itu. Namun manusia banyak yang terjebak dengan apa yang mengalir di depan matanya, di hatinya, dan di otaknya. Padahal hati diciptakan sebagai tempat bermunajat pada Allah, bukan tempat persinggahan warna-warni dunia. Karena mencintai sesuatu yang bukan tempatnya, bukanlah cinta yang diridloi-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Cinta dunia adalah biang segala kesalahan "(HR. Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna eksplisit dari redaksi hadits di atas menjelaskan bahwa semua kesalahan anak manusia bermuara dari cinta dunia yang bersemayam dalam hati. Sebab, bila diteliti ternyata perasaan cinta itu adalah motivator utama bagi seseorang untuk berbuat maksiat. Begitupula sebaliknya, cinta kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya adalah bahan bakar untuk berbuat ketaatan, berangkat dari klasifikasi iman menjadi dua, aqli (rasional) dan athifi (emosional).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diaktensi (dibahas) oleh hadits lain yang artinya "Cintamu terhadap sesuatu itu selalu membutakan dan membuatmu tuli". (HR. Abu Daud). Maka satu-satunya kiat untuk menghindari kesalahan adalah benci terhadap dunia, seperti dijelaskan oleh hadits di atas melewati arti implisitnya. Benci disini berarti menghapus rasa ketergantungan hati, sebagaimana cinta - merupakan antonimnya - yang berarti kecenderungan kalbu terhadap sesuatu. Ketergantungan akan dunia kiranya dapat terkelupas dari batin seseorang bila ia selalu meyakinkan dirinya tentang umur dunia yang temporal(sementara) ini dan mengingat realita kematian, serta senantiasa menganggap dirinya berada dalam kembara hidup yang tak ubahnya suatu perjalanan singkat menuju akhirat. "Anggaplah dirimu di dunia seperti orang asing atau orang yang meniti suatu jalan"m begitu sabda Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya tamsil (permisalan) orang asing (gharib) yang dibawa oleh beliau sangatlah tepat untuk dijadikan bahan renungan, klop dengan kondisi kita sekarang ini yang jauh dari kampung halaman. Maka marilah kita posisikan negeri asing tempat kita berdomisili ini sebagai dunia, dan kampung halaman yang jauh dari mata adalah akhirat, lalu mulailah sejenak kita renungkan. Mungkin terbesit di hati sebagian bahwa konsep benci terhadap dunia di atas, tidak logis sekaligus tidak manusiawi, dengan alasan bahwa eksistensi (keberadaan) manusia itu sendiri di dunia ini adalah untuk berkarya, maka bagaimana bisa sinkron (nyambung) dengan perasaan benci terhadap dunia yang notabene adalah lokasi atau lahan untuk berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ilusi tersebut--bila kita mau bijaksana--muncul ke permukaan pikiran sebab kesalahan interpretasi (cara memaknai) terhadap makna benci itu sendiri. Perlu dipahami, benci dunia bukan berarti melepaskan diri dari realita hidup di dalamnya, tapi berarti mencerabut ketergantungan hati darinya. Demikian pula dengan terminologi (pengertian) Zuhud yang dikenalkan oleh Nabi SAW dalam salah satu sabdanya kepada Ibnu Abbas ra.--menurut para ulama--bukan bermakna kosongnya tangan dari dunia, namun maknanya adalah kosongnya hati darinya (khuluw al-qolbi min ad-dunya la khuluw al-yadi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah hikayat. Di sebuah desa, tersebutlah seorang kyai yang hidup sangat miskin. Sehingga disebutkan bahwa hartanya hanya setengah batok kelapa. Sarana satu-satunya untuk makan, minum dan kebutuhan lainnya. Alhasil, ia adalah profil kiai yang anti dunia. Suatu hari, muridnya sowan (bertandang--Jawa-red.) kepadanya untuk pergi ke suatu tempat. Si kiai lalu berpesan kepadanya agar sesampainya ia di tujuan agar menemui gurunya yang kebetulan tinggal di sana, sekaligus meminta pesan nasihat dari mahaguru tadi spesial untuk si Kiai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal alamat dari sang kiai, sang murid kemudian sampai ke kediaman mahaguru. Namun seribu tanda tanya membuat hatinya begitu masygul ketika ia lihat ternyata kediaman mahaguru itu adalah rumah megah, lengkap dengan asesoris yang serba "wah", ditambah dengan beberapa pelayan dengan berbagai profesi. Pemandangan yang membingungkan tidak membuat ia mundur untuk menyampaikan salam kiai batok berikut permintaan nasehat. Dengan penuh was-was ia utarakan maksud kedatangannya setelah sedikit basa-basi tentunya. Mahaguru itu lalu berpesan kepada murid itu guna menyampaikannya kepada Kiai batok agar menjauhi dunia. Sontak saja sang murid seperti ditampar sandal, hatinya bergumam, bagaimana mahaguru itu menganjurkan sang kiai yang super sederhana untuk menjauhi dunia padahal ia sendiri berlimpahan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia kembali ke desanya, ia langsung menemui si Kiai dan menyampaikan pesan dari mahaguru untuknya, meski dengan perasaan tak karuan. Tapi si Kiai setelah mendengar pesan itu menangis tersedu-sedu. Lalu ia memikir teka-teki yang berada di benak muridnya, seraya berkata: "Tahukah engkau tentang guruku yang telah kau temui kemarin, walaupun ia berlimpahan dunia tapi hatinya sama sekali tidak memikirkannya, lain halnya dengan diriku yang ternyata masih selalu memikirkan batok kelapa ini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian menyebutkan bahwa mahaguru di atas adalah Imam Abul Hasan as-Syadzili. Ada baiknya jika renungan singkat ini, di tutup dengan profil salah satu sahabat sekaligus Ahlu Bait Nabi SAW yang bernama Ali Bin Abi Tholib Karrama Allahu Wajhahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari sahabat Muawiyah bin Abu Sufyan RA. berkata kepada Dhiror bin Dhomroh, "Ceritakan kepadaku tentang karakter Ali". "Mohon, jangan kau memaksaku," jawab Dhiror. "Ceritakan!" tegas Muawiyah lagi. "Mohon jangan kau memaksaku," jawabnya untuk kedua kali. "Bagaimanapun kau harus ceritakan!". Lalu Dhiror berkata, "Bila memang harus aku ceritakan, maka--demi Allah--ia adalah pribadi bersahaja, sangat kuat, berkata benar, dan berlaku adil. Ilmu pengetahuan mengalir deras darinya. Benci terhadap kelap-kelip dunia, dan senang dengan suasana gelapnya malam. Ia--demi Allah--sering menangis, dan merenung, membalik telapak tangannya dan berbicara kepada dirinya sendiri. Ia senang dengan baju yang kasar, dan makanan yang sederhana. Demi Allah, Ia selalu menjawab pertanyaan kami, mengajak kami berbicara sebelum kami mulai, dan selalu datang bila kami undang. Sementara kami--demi Allah-- meski ia akrab, selalu menaruh segan kepadanya, kami tidak pernah mendahuluinya bicara. Saat ia tersenyum tak ubahnya seperti mutiara yang tersusun. Ia menghormati pakar agama, dan mencintai orang-orang miskin. Orang dzolim akan tunduk, dan orang lemah akan merasakan keadilannya. Aku bersaksi dengan nama Allah! Aku pernah melihatnya suatu saat, ketika malam menurunkan tabirnya, dan bintang-bintang mulai tertelan pekat, ia berdiri di mihrabnya sambil memegang jenggotnya, terlihat gelisah seperti orang sakit, dan menangis sedih. Aku mendengarnya berkata, "Hei Dunia, apakah engkau menuju kepadaku dan mengawasiku, menjauhlah, menjauhlah! Tipu selain aku, sebab aku sudah menceraimu tiga kali tanpa rujuk! Usiamu sebentar, kehidupanmu remeh, namun bahayamu besar! Oh, bekalku yang sedikit, padahal perjalanan yang penuh aral masih teramat jauh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarnya Muawiyah menangis tersedu-sedu. Akhirnya, marilah kita memohon kepada Pencipta dunia dan alam semesta, dengan doa yang seringkali tergulir dari lisan orang-orang saleh, "Allahummaja'al ad-dunya fi aydina wala taja'alha fi qulubina". Yang artinya, "Ya Allah jadikanlah dunia di tangan kami tapi jangan Kau menjadikannya dalam hati kami".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-2249579537784265755?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/2249579537784265755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/10/mencintai-yang-semestinya-dicintai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/2249579537784265755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/2249579537784265755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/10/mencintai-yang-semestinya-dicintai.html' title='Mencintai Yang Semestinya Dicintai'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-687451784668342087</id><published>2009-10-30T12:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T12:25:22.381-07:00</updated><title type='text'>Jauhilah Kesenangan Dunia, Niscaya Dicintai Allah</title><content type='html'>Dari Abul-Abbas Sahl bin Sa’d As-Sa’idi rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan aku suatu amal, jika aku lakukan akau akan dicintai Alloh dan dicintai oleh manusia. “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya dicintai Alloh dan zuhud lah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya mereka akan mencintaimu” (Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan imam yang lainnya dengan sanad yang shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuhud&lt;br /&gt;Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Maka zuhud terhadap dunia maksudnya apabila berbuat bukan demi mendapatkan nilai duniawi tetapi semata-mata lillah, maka sama saja baginya mendapat pujian atau mendapat celaan manusia. Zuhud terhadap milik manusia maksudnya tidak ada dalam hatinya keinginan dan perhatian terhadap sesuatu yang menjadi milik orang lain. Barang siapa yang bisa merealisasikan dalam dirinya zuhud dengan pengertian di atas maka dia akan meraih cinta Alloh dan cinta manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Hadits&lt;br /&gt;Hadits ini sangat penting karena berisi landasan untuk mendapatkan cinta Alloh dan cinta manusia.&lt;br /&gt;Cinta Alloh Dan Cinta Manusia&lt;br /&gt;Cinta Alloh dapat diraih dengan menunaikan hak-hakNya dan demikian juga cinta manusia dapat diraih dengan menunaikan hak-haknya dan memperlakukan mereka secara adil dan baik. Mendapat cinta Alloh adalah tujuan utama seorang hamba dalam hidupnya, maka wajib bagi seorang hamba untuk mengetahui hal-hal yang mendatangkan kecintaan Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis ini memberitahukan bahwa Allah SWT mencintai orang orang yang zuhud terhadap dunia. Mereka berkata:”Jika kecintaan terhadap Allah adalah tingkatan keimanan yang paling mulia, maka zuhud terhadap dunia adalah keadaan keimanan yang paling mulia pula.”&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa zuhud di dunia merupakan salah satu kedudukan yang mulia bagi orang orang yang meniti jalan Alloh. Zuhud merupakan ungkapan tentang pengalihan keinginan dari sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik lagi. Apa yang dialihkan itu disyaratkan merupakan sesuatu yang di senangi seberapa pun porsinya. Siapa yang mengalihkan sesuatu yang tidak di senanginya dan dia tidak menuntutnya, maka ia tidak disebut orang yang zuhud.&lt;br /&gt;Istilah orang yang zuhud dikhususkan bagi orang orang yang meninggalkan keduniaan. Siapa yang zuhud dalam segala sesuatu selain Alloh SWT, maka dia adalah orang yang sempurna dalam zuhudnya.Siapa yang zuhud di dunia dan mengharapkan surga dan kenikmatannya maka dia juga disebut orang yang zuhud.&lt;br /&gt;Adapun pengertian zuhud adalah berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya. Ilmu yang akan menghantarkan manusia ke gerbang zuhud adalah ilmu tentang betapa hinanya sesuatu yang ditinggalkan jika dibandingkan dengan sesuatu yang di ambil.&lt;br /&gt;Siapapun yang mengerti, (seperti mengertinya ia bahwa batu permata itu lebih mulia dari pada sebongkah batu es), bahwa apa yang disisi Alloh SWT itu lebih kekal dan akhirat itu lebih baik dan abadi, maka ialah orang yang zuhud.&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa zuhud bukan hanya meninggalkan harta, menghinakannya sebagai sesuatu yang di hamparkan dan bisa di jadikan kekuatan serta sesuatu yang melemahkan hati, tetapi zuhud ialah meninggalkan keduniaan ,karena tahu kehinaannya jika dibandingkan denngan ketinggian nilai akhirat. Siapa yang menyadari bahwa dunia ini laksana es yang mencair ketika diletakkan di bawah terik matahari, ia akan terus meleleh sampai akhirnya hilang, dan akhirat itu laksana batu permata yang tidak akan hilang di telan masa.&lt;br /&gt;Fudhail bin ’iyadl berkata;”Pondasi zuhud adalah ridha terhadap segala sesuatu yang datang dari Alloh SWT”. Beliau juga berkata;”Orang yang selalu qona’ah adalah orang yang zuhud dan dialah orang yang pada hakikatnya kaya. Barang siapa memiliki sifat ”yakin” dan ”percaya” kepada Alloh SWT,maka ia akan tenang menyerahkan segala urusan kepada Alloh SWT, dan ridho kepada segala keputusanNya, ia juga akan memutuskan roja’ dan khouf kepada makhluk serta meninggalkan usaha mencari kekayaan dunia dengan cara-cara yang di benci. Maka, barang siapa yang demikian keadaannya maka dia adalah seorang yang benar-benar zuhud dan orang terkaya walaupun ia tidak memiliki sedikit pun harta dunia. Seperti yang di ungkapkan sahabat ‘Ammar;”Cukuplah kematian itu menjadi peringatan, cukuplah keyakinan yang kuat itu menjadi kekayaan, dan cukuplah ibadah itu menjadi kesibukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh SWT memuji orang yang zuhud terhadap dunia dan mencela mereka yang mencintai dunia.&lt;br /&gt;Artinya: ”Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Al ’Ala: 16-17)&lt;br /&gt;dan Firman Alloh&lt;br /&gt;Artinya:”Dan mereka bangga dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu dibandingkan dengan akhirat hanyalah kesenangan yang tidak berarti”.(Ar Ra’d :26)&lt;br /&gt;Rosululloh SAW bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاللهِ لِلدُّنْيَاأَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هذَا عَلَيْكُمْ (روه المسلم)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:“Demi Alloh,dunia ini dihadapan Alloh lebih hina dari pada bangkai ini di hadapan kalian.” (HR.Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diantara keutamaan zuhud,maka allah berfirman:”Dan janganlah kamu menunjukan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan golongan dari mereka,sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami cobai pada mereka”.(Thoha:131)&lt;br /&gt;Hasan Albasri berkata:”manusia dihimpun pada hari kiamat dalam keadaan telanjang,kecuali orang orang yang zuhud.sesungguhnya ada orang orang yang dihormati diduna lalu mereka disalib di papa kayu,sihingga mereka menjadi hina karenanya maka tenangkanlah hati kalian jika kalian di hinakan hanya karena perkara dunia.&lt;br /&gt;Adapun zuhud memiliki beberapa derajat dan tingkatan .&lt;br /&gt;1.seseorang yang zuhud terhadap dunia tetapi sebenarnya ia menginginkannya.hatinya condong padanya,jiwanya berpaling padanya,namun ia berusaha bermujahada untuk mencegahnya, inilqh seorang yang mutazahhid(orang yang berusaha zuhud).&lt;br /&gt;2.seorang meninggalkan dunia dalam rangka taat kepada allah swt.karena ia melihat sebagain sesuatu yang hina dina,jika dibandingkan dengan apa yang hendak di gapainya.orang ini sadar betul bahwa ia zuhud, kaadaannya seperti orang yang meninggalkan sekeping dirhan untuk mendapatkan dua keping dirham.&lt;br /&gt;3.seorang yang terhadap dunia dengan benar benar zuhud dalam zuhudnya.dia tidak melihat dunia sebagai sesuatu yang tidak berguna seperti orang membuang sampah,lalu mengambila mutiara,dan perumpamaan lainnya,seperti orang ingin memasuki istana raja tetapi dihadang oleh seokor anjing didepan gerbang.lalu ia melemparkan sepotong daging untuk mengelabuhi anjing tadi dan iapun masukmenmui sang raja.&lt;br /&gt;Ada orang yang bernggapan bahwa siapa yang meninggalkan harta adalah orang yang zuhud. Padahal pada hakikatnya tiadak begitu, meninggalkan harta dan menampakkan kemelaratan, telalu mudah dilakukan oleh orang yang ingin dipuji sebagai orang yang zuhud.&lt;br /&gt;Zuhud harus menghindari harta dan kedudukan secara bersama-sama, agar zuhud bisa menjadi sempurna didlam jiwa. Ibnu mubarok berkata : “ zuhud yang paling utama adalah menyembunyikan zuhud. Untuk itu harus diperhatikan tiga perkara di bawah ini :&lt;br /&gt;1. Tidak boleh menampakkan kegembiraan karena yang dia ingini ada, dan tidak boleh menampakkan kesedihan karena yang dia ingini tidak ada. Ini zuhud yang berkaitan dengan harta.&lt;br /&gt;2. Harus menyeimbangkan diri terhadap orang yang memuji dan mencelanya. Ini zuhud yang berkaitan dengan kedudukan.&lt;br /&gt;3. Kebersamaannya hanya dengan Alloh SWT. Biasanya orang tersebut mendapatkan manisnya keimanan didalam hatinya karena ketaatannya kepada Alloh SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang yang cinta kepada dunia dan cinta kepada Alloh SWT yang bersemayam didalam hatinya, maka ini ibarat air dan udara didalam kuali, jika air dimasukkan kedalamnya, maka udaranya akan kelua. Karena keduanya tidak akan pernah bisa berkumpul.&lt;br /&gt;Banyak diantara para sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in serta orang-orang sholeh yang sangat dicinyai baik itu oleh Rosululloh SAW, serta para orang-orang yang ad adi dekatnya. Diantaranya dari golongan Tabi’in, belau adalah Umar bin Abdul Aziz seorang pemimpin yang sangat zuhud. Dunia berlimpah datang kepadanya tetapi ia meninggalkanny. Jadi wajar saja beliau sangat dicintai oleh rakyatnya, sampai-sampai, pada masa beliau tiada seorangpun diantara rakyatnya yang kekurangan akan harta, semuanya merasa sangat tercukupi. Sampai akhir hayatnya beliau tidak mewariskan harta yang banyak kepada anak-anaknya. Dan anaknyapun tidak merasa sedih, bahkan mersa bangga akan kebijaksanaannya kepada rakyat maupun kezuhudannya terhadap dunia.&lt;br /&gt;Sedangkan kita, sudahkah kita zuhud akan DUNIA……………???????????????? Dan relakah kita meninggalkan dunia yang fana ini dalam rangka beribadah kepada Alloh SWT…….??????serta agar dicintai oleh-Nya karena kezuhudan yang tertancap di dalam hati kita…..????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hadidi El Muhajid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;1. tazkiyatun Nafs ( Ibnu AL Jauziyyah, Imam Ghozali, Ibnu Rojab )&lt;br /&gt;2. minhajul Qosidin ( Ibnu Qudamah )&lt;br /&gt;3. Al Atqiaul Akhfiyaa ( Said Abdul Adzhim )&lt;br /&gt;4. Washoya Rosululloh LirRijal ( M. Khalil Itani )&lt;br /&gt;5. Mahligai Taqwa ( Ibnu Rajab )&lt;br /&gt;6. Kitab ARRiqqohb ( Ibnu Qudamah )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-687451784668342087?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/687451784668342087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/10/jauhilah-kesenangan-dunia-niscaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/687451784668342087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/687451784668342087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/10/jauhilah-kesenangan-dunia-niscaya.html' title='Jauhilah Kesenangan Dunia, Niscaya Dicintai Allah'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-5203058226009872346</id><published>2009-10-30T11:55:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T11:59:14.094-07:00</updated><title type='text'>Zuhud dan Tamak</title><content type='html'>1. Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw dan bertanya, "Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia." Rasulullah Saw menjawab, "Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia." (HR. Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Telah sukses orang yang beriman dan memperoleh rezeki yang kecil dan hatinya pun akan disenangkan Allah dengan pemberianNya itu. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan:&lt;br /&gt;Dia merasa senang dengan rezeki yang diberikan Allah meskipun sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ya Allah, langsungkan hidupku dalam kemiskinan dan wafatkan aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkan pula aku kembali dalam kelompok orang-orang miskin. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Robbku menawarkan kepadaku untuk menjadikan lembah Mekah seluruhnya emas. Aku menjawab, "Jangan ya Allah, aku ingin satu hari kenyang dan satu hari lapar. Apabila aku lapar aku akan memohon dan ingat kepada-Mu dan bila kenyang aku akan bertahmid dan bersyukur kepada-Mu." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Cukup bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. (HR. Ath-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Barangsiapa ridho dengan rezeki yang sedikit dari Allah maka Allah akan ridho dengan amal yang sedikit dari dia, dan menanti-nanti (mengharap-harap) kelapangan adalah suatu ibadah. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kepuasan (rela dengan bagiannya) adalah pusaka yang tidak bisa hilang. (HR. Al-Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Barangsiapa zuhud di dunia maka ringan baginya segala musibah. (HR. Asysyihaab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Dua orang pelahap yang tidak pernah kenyang yaitu penuntut ilmu dan penuntut dunia. (HR. Al Bazzaar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ketamakan menghilangkan kebijaksanaan dari hati para ulama. (HR. Ath-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Kekayaan bukan banyaknya harta-benda yang dimiliki tetapi kekayaan jiwa. (HR. Bukhari)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-5203058226009872346?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/5203058226009872346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/10/zuhud-dan-tamak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/5203058226009872346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/5203058226009872346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/10/zuhud-dan-tamak.html' title='Zuhud dan Tamak'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2994770259264972240.post-4573769907458057689</id><published>2009-10-30T10:46:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T11:54:22.210-07:00</updated><title type='text'>Kitab Zuhud Dan Kelembutan Hati</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CSony%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CSony%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CSony%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:-2; 	mso-list-type:simple; 	mso-list-template-ids:663678752;} @list l0:level1 	{mso-level-start-at:0; 	mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:*; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:0cm; 	text-indent:0cm;} @list l0:level1 lfo1 	{mso-level-numbering:continue; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	mso-level-legacy:yes; 	mso-level-legacy-indent:18.0pt; 	mso-level-legacy-space:0cm; 	margin-left:0cm; 	text-indent:0cm; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-language:EN-US;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda: Tiga perkara yang akan mengiringi mayit, yang dua akan kembali dan yang satu akan menetap. Ia akan diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amal perbuatannya. Keluarga dan hartanya akan kembali dan tinggallah amal perbuatannya. (Shahih Muslim No.5260)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Amru bin Auf ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Bahwa Rasulullah mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah ke Bahrain untuk memungut jizyahnya (upeti), karena Rasulullah telah mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Bahrain dan mengangkat Alaa' bin Hadhrami sebagai gubernurnya. Kemudian Abu Ubaidah kembali dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Ansar mendengar kedatangan Abu Ubaidah lalu melaksanakan salat Subuh bersama Rasulullah. Setelah salat, beliau beranjak lalu mereka menghalanginya. Ketika melihat mereka beliau tersenyum dan bersabda: Aku tahu kalian telah mendengar bahwa Abu Ubaidah telah tiba dari Bahrain dengan membawa harta upeti. Mereka berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Bergembiralah dan berharaplah agar mendapatkan sesuatu yang menyenangkan kamu sekalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka. (Shahih Muslim No.5261)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Bahwa Rasulullah bersabda: Ketika seorang dari kalian memandang orang yang melebihi dirinya dalam harta dan anak, maka hendaklah ia juga memandang orang yang lebih rendah darinya, yaitu dari apa yang telah dilebihkan kepadanya. (Shahih Muslim No.5263)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Bahwa ia mendengar Nabi bersabda: Sungguhnya ada tiga orang Bani Israel, seorang berkulit belang, seorang berkepala botak dan yang lain matanya buta. Allah ingin menguji mereka, maka Dia mengirim malaikat. Malaikat ini mendatangi orang yang berkulit belang dan bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu menjawab: Warna (kulit) yang bagus, kulit yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku. Malaikat tersebut mengusap tubuhnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi warna yang bagus dan kulit yang indah. Malaikat bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu senangi? Orang itu menjawab: Unta. Atau: Ia menjawab: Sapi. (Ishak ragu-ragu tentang itu). Lalu ia diberi unta yang hampir melahirkan lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya untukmu. Kemudian ia mendatangi orang yang botak lalu bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu berkata: Rambut yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku. Malaikat mengusapnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi rambut yang indah. Malaikat bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu senangi? ia menjawab: Sapi. Maka ia diberi sapi bunting lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya untukmu. Kemudian malaikat mendatangi yang buta, lalu bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Ia menjawab: Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku dapat melihat manusia. Maka Malaikat mengusapnya, sehingga penglihatannya kembali normal. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu sukai? Ia menjawab: Kambing. Maka ia diberi kambing yang beranak. Selanjutnya semua binatang yang diberikan itu beranak-pinak sehingga orang yang berpenyakit belang dapat mempunyai unta satu lembah, yang botak mempunyai sapi satu lembah dan yang asalnya buta memiliki kambing satu lembah. Pada suatu ketika malaikat kembali mendatangi orang yang berpenyakit belang dalam bentuk dan cara seperti ia dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah menganugerahimu warna yang bagus, kulit yang indah serta harta benda, aku minta seekor unta untuk membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Masih banyak sekali hak-hak yang harus kupenuhi. Maka malaikat itu berkata kepadanya: Aku seperti mengenal kamu, bukankah kamu yang dahulu berpenyakit kulit belang yang manusia jijik kepadamu, serta yang dahulu fakir lalu diberi harta oleh Allah? Orang itu berkata: Aku mewarisi harta ini secara turun-temurun. Malaikat berkata: Kalau kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi. Setelah itu malaikat tadi mendatangi orang yang dahulu botak dalam bentuknya seperti dahulu lalu berkata kepadanya seperti apa yang dikatakannya kepada orang yang berkulit belang, dan orang itu menjawabnya seperti jawaban orang yang belang tadi. Maka malaikat berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi. Kemudian sesudah itu malaikat mendatangi orang yang dahulu buta dalam bentuk dan cara seperti dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang mengembara dan telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah memulihkan penglihatanmu, aku minta seekot kambing untuk membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Dahulu aku buta, lalu Allah memulihkan penglihatanku, maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu inginkan. Demi Allah aku tidak akan membebani kamu untuk mengembalikan sesuatu yang telah kamu ambil untuk Allah. Maka malaikat berkata: Peganglah hartamu itu semua, karena kamu sekalian hanya sekedar diuji, kamu telah diridai Tuhan, sedangkan kedua sahabatmu telah dimurkai Allah. (Shahih Muslim No.5265)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Saad bin Abu Waqqash ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Demi Allah, aku adalah orang Arab pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Kami pernah berperang bersama Rasulullah dan tidak ada makanan yang dapat kami makan selain daun hublah dan daun samur (dua macam tanaman padang pasir), sehingga kotoran kami seperti kotoran kambing. Kemudian keesokan harinya Bani Asad mengajariku pengetahuan agama. Kalau demikian, sungguh aku telah gagal dan usahaku sia-sia. Dan Ibnu Numair tidak mengatakan: Kalau demikian. (Shahih Muslim No.5267)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Sejak berpindah ke Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang karena makan gandum selama tiga malam berturut-turut sampai beliau wafat. (Shahih Muslim No.5274)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Aisyah ﻿ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Kami, keluarga Muhammad sering hidup selama satu bulan tidak menyalakan api (memasak), karena makananannya hanya kurma dan air. (Shahih Muslim No.5280)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Aisyah ﻿ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah wafat, di lemariku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan manusia, kecuali setengah roti gandum yang berada dalam sebuah lemari milikku lalu aku memakan sebagian untuk beberapa lama, kemudian aku timbang ternyata telah habis. (Shahih Muslim No.5281)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Aisyah ﻿ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Rasulullah wafat ketika orang-orang sudah kenyang memakan kurma dan air. (Shahih Muslim No.5284)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Dalam riwayat Ibnu Abbad: Demi Tuhan yang jiwa Abu Hurairah berada dalam genggaman-Nya, belum pernah Rasulullah membuat keluarganya kenyang selama tiga hari berturut-turut dengan roti gandum sampai beliau wafat. (Shahih Muslim No.5286)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Janganlah memasuki daerah kaum yang menganiaya diri mereka sendiri, kecuali dengan menangis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda kepada Ashabul Hijr: Janganlah kamu sekalian memasuki daerah kaum yang telah disiksa, kecuali jika kamu sekalian menangis. Kalau kamu tidak menangis, janganlah memasuki daerah mereka agar kalian tidak tertimpa apa yang menimpa mereka. (Shahih Muslim No.5292)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;2.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berbuat baik kepada janda, orang miskin dan anak yatim&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Dari Nabi saw. beliau bersabda: Orang yang membiayai para janda dan orang miskin itu bagaikan seorang pejuang di jalan Allah. Aku mengira beliau menambahkan: Dan bagaikan orang yang selalu menjalankan salat malam tanpa henti atau bagaikan orang yang selalu berpuasa tanpa berbuka. (Shahih Muslim No.5295)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;3.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang yang menyekutukan Allah dalam amalnya (riya)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Jundub Al-Alaqiy ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan menyiarkan aibnya dan barang siapa yang riya dengan amalnya, maka Allah akan menampakkan riyanya. (Shahih Muslim No.5302)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;4.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berucap satu kata buruk akan jatuh ke dalam neraka&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:&lt;br /&gt;Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sungguh ada seorang hamba yang mengucapkan satu kata (buruk) sehingga ia terjerumus ke dalam neraka lebih dalam dari jarak antara timur dan barat. (Shahih Muslim No.5303)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;5.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Siksaan orang yang memerintahkan kebaikan, tetapi ia tidak mengerjakannya dan melarang berbuat kemungkaran, tetapi ia mengerjakannya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka, lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi perutnya itu seperti seekor keledai memutari penggilingan. Lalu penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya: Hai Fulan, kanapa kamu disiksa seperti ini, bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran? Ia jawab: Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran namun aku tetap menjalankannya. (Shahih Muslim No.5305)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;6.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Larangan membuka aib sendiri&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Semua umatku akan ditutupi segala kesalahannya kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan. Masuk dalam kategori berbuat maksiat terang-terangan adalah bila seorang berbuat dosa di malam hari kemudian Allah telah menutupi dosanya, lalu dia berkata (kepada temannya): Hai Fulan! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu. Allah telah menutupi dosanya ketika di malam hari sehingga ia bermalam dalam keadaan ditutupi dosanya, kemudian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup Allah dari dirinya. (Shahih Muslim No.5306)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;7.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mendoakan orang yang bersin dan makruh menguap&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Dua orang bersin di dekat Rasulullah saw., beliau mendoakan salah seorangnya dan membiarkan yang lain. Orang yang tidak didoakan itu berkata: Si Fulan bersin kemudian engkau mendoakannya, tetapi aku bersin, engkau tidak mendoakanku. Beliau bersabda: Orang ini memuji Allah tetapi kamu tidak memuji Allah. (Shahih Muslim No.5307)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:&lt;br /&gt;Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Menguap itu termasuk dari (gangguan) setan, maka jika seorang dari kamu menguap, hendaklah ia menahan semampunya. (Shahih Muslim No.5310)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;8.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tentang tikus jelmaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda: Satu kaum dari Bani Israel telah hilang-lenyap tanpa diketahui sebab apa yang telah dikerjakan dan tidak terlihat, kecuali (dalam bentuk) tikus. Tidakkah kamu lihat, jika (tikus tiu) diberi susu unta, ia tidak meminumnya, tetapi jika diberi susu kambing ia meminumnya. (Shahih Muslim No.5315)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;9.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:&lt;br /&gt;Dari Nabi saw., beliau bersabda: Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama. (Shahih Muslim No.5317)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -35.45pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;10.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Larangan memuji secara berlebihan dan dikhawatirkan dapat menimbulkanakibat buruk bagi yang dipuji&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abu Bakrah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Seorang lelaki memuji orang lain di hadapan Nabi saw. maka beliau bersabda: Celaka kamu! Kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu! Beliau mengucapkannya berulang-ulang. Apabila seorang di antara kamu terpaksa harus memuji temannya, hendaklah ia berkata: Aku mengetahui kebaikan si Fulan namun Allah lebih mengetahui keadaannya, dan aku tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun yang aku ketahui di hadapan Allah karena Allah lebih mengetahui keadaannya yang sebenarnya. (Shahih Muslim No.5319)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Nabi saw. mendengar seorang memuji orang lain secara berlebih-lebihan, maka beliau bersabda: Sungguh kamu telah membinasakannya atau telah memotong punggung orang itu. (Shahih Muslim No.5321)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;11.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tentang sikap berhati-hati dalam menerima hadis dan hukum mencatat ilmu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis riwayat Aisyah ra.:&lt;br /&gt;Dari Urwah ia berkata: Abu Hurairah ra. pernah meriwayatkan suatu hadis dengan berkata: Wahai pemilik kamar, dengarkanlah! Wahai pemilik kamar, dengarkanlah! Ketika itu Aisyah sedang salat lalu setelah menyelesaikan salatnya, ia berkata kepada Urwah: Apakah kamu tidak mendengar ucapan orang ini tadi? Karena sesungguhnya Nabi saw. jika mengucapkan suatu hadis, jika ada yang menghitungnya, maka ia pasti dapat menghitungnya. (Shahih Muslim No.5325)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2994770259264972240-4573769907458057689?l=islamzuhud.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamzuhud.blogspot.com/feeds/4573769907458057689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/10/kitab-zuhud-dan-kelembutan-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/4573769907458057689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2994770259264972240/posts/default/4573769907458057689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamzuhud.blogspot.com/2009/10/kitab-zuhud-dan-kelembutan-hati.html' title='Kitab Zuhud Dan Kelembutan Hati'/><author><name>Agus diantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15016808870730574227</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_9GbyrQGMQgk/SnY_G4-AMxI/AAAAAAAAACg/6JQt3wpIU3M/S220/Mu%27min.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
